Laporan BPS: Surplus Neraca Perdagangan RI Berlanjut 72 Bulan, Capai USD 89,1 Juta pada April 2026

Oleh: Lydia Fransisca
Rabu, 03 Juni 2026 | 14:10 WIB
Ilustrasi neraca perdagangan Indonesia. Petugas berjaga di samping peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Ilustrasi neraca perdagangan Indonesia. Petugas berjaga di samping peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 kembali mencatat surplus USD89,1 juta. 

Dengan capaian itu, Indonesia mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, surplus terjadi karena nilai ekspor pada April lebih tinggi dibandingkan impor.

"Setelah melihat perkembangan ekspor dan impor, maka neraca perdagangan barang untuk April 2026 mencatat surplus USD89,1 juta. Neraca perdagangan Indonesia dengan demikian telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Pudji dalam keterangan resminya pada Rabu (3/6/2026).

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai USD25,32 miliar, sedangkan impor USD25,21 miliar. 

Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-April 2026 mencapai USD5,64 miliar.

Menurut Pudji, nilai ekspor April 2026 tumbuh 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan itu terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang mencapai USD 24,15 miliar atau naik 23,36 persen secara tahunan.

Komoditas yang mencatat kenaikan signifikan antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, nikel dan barang daripadanya, serta mesin dan peralatan mekanis.

Pudji menjelaskan, peningkatan ekspor juga didukung oleh naiknya harga minyak sawit mentah (CPO) dan membaiknya aktivitas manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia.

"Pada April, PMI Manufaktur negara mitra dagang utama seperti India, Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok berada pada zona ekspansif, di mana PMI India adalah 54,7, kemudian Amerika Serikat 54,5, Jepang 55,1, dan China 52,2," tambahnya.

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada April 2026 tercatat USD 25,21 miliar atau meningkat 22,49 persen dibandingkan April tahun lalu.

Kenaikan impor terutama berasal dari bahan baku dan barang penolong yang mencapai USD18,65 miliar.

Menurut Pudji, peningkatan impor bahan baku dan barang penolong menunjukkan aktivitas industri dalam negeri yang masih tumbuh.

"Jadi, secara terperinci, nilai impor migas pada April sebesar USD4,60 miliar, atau meningkat 82,52 persen secara tahunan, sedangkan nilai impor nonmigas adalah senilai USD 20,6 miliar atau mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 14,11 persen," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: