Rupiah Melemah, BI Agresif Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 09 Juni 2026 | 16:39 WIB
Ilustrasi gedung Bank Indonesia. (Foto/ist)
Ilustrasi gedung Bank Indonesia. (Foto/ist)

BeritaNasional.com - Bank Indonesia (BI) bergerak cepat merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang melampaui prediksi akibat meningkatnya tensi geopolitik global. 

Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar Selasa (9/6/2026), bank sentral memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.

Tidak hanya BI-Rate, suku bunga Deposit Facility juga merangkak naik menjadi 4,50 persen dan suku bunga Lending Facility kini berada di level 6,25 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan kebijakan ini merupakan langkah taktis demi membendung dampak rambatan dari ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%," ujar Ramdan Denny Prakoso dalam siaran persnya pada Selasa (9/6/2026).

Rupiah Melemah dari Perkiraan

Keputusan agresif ini diambil setelah BI melakukan evaluasi mendalam pasca-RDG Bulanan pada Mei lalu. 

Berdasarkan pantauan otoritas moneter, pergerakan Rupiah belakangan ini terus tertekan oleh tingginya permintaan valas di dalam negeri serta aksi angkat kaki (outflow) para investor portofolio asing.

Melihat fenomena tersebut, BI memandang insentif bagi modal asing harus didongkrak agar pasar keuangan domestik kembali bergairah.

"Dalam evaluasi sejak RDG Bulanan tanggal 19-20 Mei 2026, nilai tukar Rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari yang diperkirakan. Di samping disebabkan oleh gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing dalam negeri, pelemahan juga didorong oleh aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia," ungkap Denny.

Karena itu, lanjut Denny, BI merasa perlu menempuh langkah-langkah lanjutan. 

"Guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," tambahnya.

Strategi 4 Senjata BI: Obral Insentif hingga Guyur Likuiditas

Guna memastikan modal asing kembali masuk ke tanah air, BI tidak hanya mengandalkan jamu pahit suku bunga. Denny memaparkan empat strategi utama yang kini ditempuh bank sentral.

Pertama, dongkrak bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). BI menaikkan struktur SRBI untuk seluruh tenor (6, 9, dan 12 bulan) agar instrumen ini tetap kompetitif dibandingkan negara lain.

Kedua, diskon Biaya Lindung Nilai (Hedging). BI memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing sebesar 10 persen. Langkah ini diharapkan bisa mengompensasi beban biaya yang selama ini ditanggung investor.

Ketiga, buka kran likuiditas perbankan. BI membuka kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3 hingga 12 bulan. 

Targetnya, pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap terjaga di level dua digit (di atas 10 persen).

Keempat, intervensi pasar yang lebih intens. BI melipatgandakan intensitas operasi moneter.

Lelang SRBI kini dibuka dua kali seminggu. Di sektor valas, BI terus mengintervensi pasar domestik lewat transaksi spot dan DNDF, serta transaksi NDF di pasar luar negeri.

Fiskal-Moneter: BI dan Kemenkeu Jaga Fundamental

Denny menegaskan bahwa BI tidak berjalan sendirian. Menindaklanjuti kesepakatan bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI Perry Warjiyo pada 6 Juni, koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal kini semakin diperketat agar bergerak seirama.

Salah satu poin pentingnya adalah memastikan pengelolaan kas Pemerintah tetap diparkir di Bank Indonesia, sehingga tidak mengganggu likuiditas pasar uang saat BI sedang menjinakkan nilai tukar.

"Koordinasi fiskal-moneter yang sudah kuat selama ini terus akan diperkuat dari waktu ke waktu dan dilakukan secara berkesinambungan untuk saling mendukung dan seirama dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi," tandas Denny.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: