Gestur 'OK' Viral di Piala Dunia 2026, FIFA Putuskan Shaun Evans Tak Bersalah

Oleh: Harits Tryan
Selasa, 16 Juni 2026 | 12:31 WIB
Petugas Video Assistant Referee (VAR), Shaun Evans. (Foto/AFC)
Petugas Video Assistant Referee (VAR), Shaun Evans. (Foto/AFC)

BeritaNasional.com - FIFA memastikan tidak menemukan unsur pelanggaran terkait dugaan gestur bernuansa rasis yang melibatkan petugas Video Assistant Referee (VAR), Shaun Evans, menjelang pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 antara Jerman dan Curaçao.

Badan sepak bola dunia tersebut mengumumkan hasil investigasi pada Senin (15/6/2026), setelah muncul sorotan terhadap gestur tangan Evans yang tertangkap kamera siaran resmi menjelang laga pembuka Jerman melawan Curaçao.

Dalam tayangan pra-pertandingan, Evans yang merupakan petugas VAR asal Australia terlihat membuat simbol tangan "OK" menggunakan tangan kanannya di depan kaki kanannya. Gestur tersebut memicu perdebatan karena dalam beberapa tahun terakhir simbol itu pernah dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih.

FIFA menyatakan Komite Disiplin independen telah melakukan penyelidikan menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

"Komite Disiplin independen FIFA dapat mengkonfirmasi bahwa, setelah menyelidiki masalah yang melibatkan asisten wasit video pendukung Shaun Evans, mereka tidak menemukan bukti pelanggaran Kode Disiplin FIFA," kata FIFA dalam pernyataannya dikutip dari ESPN, Selasa (16/6/2026).

Evans juga membantah keras bahwa gerakan tersebut dilakukan dengan maksud tertentu atau mengandung unsur rasis.

"Saya ingin mengklarifikasi bahwa saya tidak sengaja membuat gerakan tangan atau simbol untuk menyampaikan pesan, afiliasi, permainan, atau kepercayaan apa pun," ujar Evans.

Ia menjelaskan bahwa gerakan tersebut merupakan tindakan tidak sadar yang dilakukan tanpa disadari saat bertugas.

"Satu-satunya penjelasan yang dapat saya berikan adalah bahwa gerakan itu adalah kedutan bawah sadar yang tidak disengaja dan saya tidak menyadari bahwa saya telah melakukannya pada saat itu," lanjutnya.

Evans juga menyebut rekaman lain sepanjang pertandingan menunjukkan dirinya beberapa kali melakukan gerakan serupa ketika memegang pena di sela jari-jarinya.

Meski demikian, ia mengaku memahami bahwa gestur tersebut dapat menimbulkan penafsiran berbeda di tengah sensitivitas isu rasial dalam olahraga.

"Tentu saja, saya mengerti bagaimana isyarat tersebut ditafsirkan dan saya menyesalinya, namun saya ingin menegaskan dan menyatakan dengan jelas bahwa saya tidak secara sadar atau sengaja membuat simbol tangan seperti yang disarankan," katanya.

FIFA menyebut pernyataan Evans turut menjadi bagian dari bahan pertimbangan dalam proses investigasi.

Pertandingan Jerman melawan Curaçao berlangsung di Houston, namun seluruh petugas video bertugas dari pusat siaran Piala Dunia di Dallas. Evans sendiri termasuk dalam daftar 30 analis peninjau video yang dipilih FIFA untuk bertugas sepanjang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Simbol tangan "OK" sebelumnya sempat menjadi sorotan internasional setelah disalahgunakan oleh kelompok supremasi kulit putih dan kemudian dimasukkan ke dalam daftar simbol kebencian oleh Anti-Defamation League (ADL) pada 2019. Meski demikian, sejumlah pihak menilai konteks penggunaan simbol tersebut tetap menjadi faktor utama dalam menentukan maknanya.

Sumber: ESPNsinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: