Prabowo Soroti Anomali Ekonomi, Tumbuh 5 Persen Tapi Kemiskinan Naik

Oleh: Lydia Fransisca
Selasa, 23 Juni 2026 | 16:48 WIB
Presiden Prabowo dalam kunjungan ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, Minggu (7/6/2026). (Foto/Setpres)
Presiden Prabowo dalam kunjungan ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, Minggu (7/6/2026). (Foto/Setpres)

BeritaNasional.com - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan terdapat anomali dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir.

Pasalnya, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen setiap tahunnya. Namun, pertumbuhan tersebut justru diiringi oleh peningkatan jumlah penduduk miskin.

Hal itu disampaikan dalam acara Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

“Kita mengerti dan kita paham bahwa selama tujuh tahun belakangan ini dikatakan bahwa ekonomi kita tumbuh 5 persen tiap tahun,” kata Prabowo.

“Tapi kenyataannya, saya merasa ditohok waktu saya jadi presiden. Data ini muncul, katakanlah dua bulan setelah saya jadi Presiden. Kenyataannya setelah 7 tahun tumbuh 5 persen, masa penduduk miskin tambah?” tambahnya.

Prabowo menegaskan kondisi tersebut menunjukkan adanya kekeliruan dalam sistem ekonomi nasional.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang stabil secara matematis seharusnya membuat negara menjadi lebih kaya.

“Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah. Ini kan sesuatu yang aneh, suatu anomali,” ujar Prabowo.

Tak hanya itu, Prabowo juga menyinggung berkurangnya jumlah masyarakat kelas menengah yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan.

Ia mengingatkan bahwa kue pertumbuhan ekonomi selama ini hanya dinikmati oleh sebagian kecil kelompok masyarakat.

“Saudara-saudara, katanya negara tambah kaya 30 persen, tapi rakyat miskin juga bertambah, kemudian kelas menengah berkurang. Dan ini juga yang harus kita waspadai, bahwa yang tambah kaya ternyata hanya segelintir orang saja,” ucapnya.

Lebih lanjut, Kepala Negara secara terbuka mengakui adanya persoalan struktural yang harus segera dievaluasi demi mewujudkan keadilan sosial.

“Jadi saya kembali, Saudara-saudara, bahwa akhirnya harus kita lihat bahwa ini berarti sistem kita keliru. Sistem ini keliru karena apa? Kalau orang miskin bertambah, yang menengah juga berkurang, berarti yang menikmati pertumbuhan ini hanya segelintir orang saja,” tandasnya.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: