Bareskrim Bantu Polres Katingan setelah 1 Anggota Gugur dan 2 Hilang saat Lawan Bandar Narkoba di Kalteng

Oleh: Bachtiarudin Alam
Kamis, 02 Juli 2026 | 16:46 WIB
Gedung Bareskrim Polri. (Foto/Humas Polri)
Gedung Bareskrim Polri. (Foto/Humas Polri)

BeritaNasional.com - Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri ikut membantu penangkapan bandar narkoba yang bersembunyi di daerah Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Turunnya personel Bareskrim Polri dilakukan setelah seorang anggota Satresnarkoba Polres Katingan Aipda Yudhie Perdana Putra gugur saat operasi menangkap bandar narkotika di wilayah tersebut.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie Perdana Putra yang gugur saat menjalankan tugas memberantas peredaran narkotika," kata Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso dalam keterangan tertulis pada Kamis (2/7/2026).

Menurut dia, dukungan Bareskrim Polri dimaksudkan untuk penanganan kasus secara maksimal. Termasuk mencari dua anggota Satresnarkoba Polres Katingan yang sejak operasi sampai saat ini hilang.

"Kami akan melakukan back-up penuh terhadap jajaran di lapangan, baik dalam pencarian anggota yang belum ditemukan, pengamanan wilayah, maupun pengungkapan tuntas jaringan narkotika dan pelaku penyerangan terhadap anggota Polri," jelasnya.

Kronologi Operasi

Eko menyampaikan, berdasarkan laporan yang diterima, Satresnarkoba Polres Katingan menindaklanjuti informasi masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei pada Rabu (1/7/2026) malam.

Akhirnya, penyelidikan ini mengarah ke seorang target operasi berinisial BIO yang diketahui merupakan residivis kasus narkotika. Lalu, 12 personel diterjunkan ke lokasi persembunyian bandar tersebut.

Setibanya di lokasi, tim dibagi menjadi dua kelompok dengan tim pertama melakukan penindakan di rumah target. Sementara itu, tim kedua bersiaga di lokasi lain sebagai unsur pendukung.

"Saat proses penangkapan berlangsung, target dapat diamankan. Namun, situasi berubah ketika beberapa orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam berupa parang," tuturnya. 

Situasi semakin panas lantaran massa yang terus bertambah menyerang dengan memakai senjata tajam serta senjata api (senpi) rakitan. Dampaknya, situasi semakin tidak terkendali.

Anggota lalu menyelamatkan diri menyeberangi sungai untuk berlindung di kawasan hutan.

"Dalam insiden tersebut, Aipda Yudhie ditemukan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam. Sementara itu, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana masih dalam pencarian oleh tim gabungan," jelasnya.

Atas kejadian ini, Eko menegaskan akan mengevaluasi operasi pemberantasan narkotika secara menyeluruh agar semua personel memiliki kesiapan maksimal dalam menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan.

"Setiap pelaksanaan penindakan harus dipersiapkan secara matang, mulai dari perencanaan operasi, pemetaan potensi ancaman, hingga kekuatan personel dan perlengkapan. Keselamatan anggota merupakan prioritas tanpa mengurangi ketegasan dalam pemberantasan narkotika," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: