Sering Konsumsi Gula Tambahan Berlebihan, Ganggu Keseimbangan Mikrobioma dalam Usus

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Senin, 27 Juli 2026 | 06:00 WIB
Gula tambahan (Foto/Pixabay)
Gula tambahan (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Ahli Gizi Kara Hochreiter, M.S., RDN, LD mengatakan, sering konsumsi gula tambahan terlalu banyak secara teratur bisa mempengaruhi keseimbangan mikrobioma di dalam usus, yang mendukung kesehatan tubuh.

Menurut siaran Eating Well, gula tambahan adalah gula yang ditambahkan ke dalam makanan selama proses pengolahan.

Gula tambahan bisa berupa gula tebu, dekstrosa, madu, sirup mapel, sirup beras merah, dan sirup jagung.

Hochreiter mengatakan, konsisten mengonsumsi gula tambahan secara berlebihan bisa mengganggu keseimbangan mikrobioma di dalam usus. Ini juga memungkinkan mikroba yang kurang bermanfaat berkembang dan mengalahkan mikroba baik.

Menurutnya, ketidakseimbangan mikrobioma di dalam usus seiring waktu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan, peradangan, disfungsi metabolisme, hingga perubahan suasana hati.

Ahli Gizi Jessie Wong, M.Acc., RDN, LD mengatakan, asupan gula tambahan yang konsisten tinggi bisa mengubah lingkungan di dalam usus.

"Penelitian menunjukkan gula tambahan dapat memperkaya bakteri yang memanfaatkan gula sekaligus mengurangi bakteri yang menghasilkan asam lemak rantai pendek, yang bermanfaat seperti butirat," katanya.

Asam lemak rantai pendek membantu menyehatkan sel-sel yang melapisi usus.

Jenis asam lemak ini juga dikaitkan dengan tingkat peradangan yang lebih rendah serta kekebalan tubuh dan kesehatan jantung yang lebih baik.

Wong mengatakan, saat asupan gula tambahan tinggi maka produksi asam lemak rantai pendek akan lebih sedikit. Kondisi ini berkontribusi pada disbiosis dan peningkatan permeabilitas usus.

Hasil riset juga menunjukkan, diet tinggi makanan ultra-olahan, yang biasanya memiliki kadar gula tambahan tinggi dan rendah serat, dapat berdampak negatif pada mikrobioma usus.

"Gula tambahan berlebih dari makanan, terutama minuman manis dan makanan ultra-olahan, seringkali kekurangan serat, air, mikronutrien, dan senyawa protektif dari tumbuhan yang membantu menyehatkan mikrobioma usus," kata Wong.

Ketika makanan dengan gula tambahan tinggi secara perlahan menggantikan buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, bakteri baik di dalam usus memiliki lebih sedikit nutrisi untuk dimakan.

Akibatnya, keanekaragaman mikroba dalam usus bisa berkurang dan keseimbangan mikrobioma usus dapat terganggu.

Wong mengatakan, mikrobioma usus setiap orang unik, sehingga respons individu terhadap gula tambahan dan faktor diet lainnya dapat bervariasi.

Namun dia menyarankan, membatasi konsumsi makanan dengan kadar gula tambahan tinggi dan menerapkan pola makan bergizi seimbang akan lebih baik bagi kesehatan usus maupun kesehatan tubuh secara keseluruhan.

"Utamakan penerapan pola makan yang mencakup buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan makanan berserat lain. Makanan manis konsumsi sesekali saja," ujarnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: