Pace Gaya Hidup Sprint, Rem Finansial Blong

Oleh: Imantoko Kurniadi
Selasa, 28 Juli 2026 | 07:08 WIB
Ilustrasi: Tumbuh Bareng Kamu dengan Literasi dan inklusi keuangan. (Foto/CopilotAI)
Ilustrasi: Tumbuh Bareng Kamu dengan Literasi dan inklusi keuangan. (Foto/CopilotAI)

BeritaNasional.com - "Kalau serius lari, sepatunya harus bagus." Kalimat itu meluncur begitu saja dari seorang teman yang baru beberapa bulan menekuni olahraga lari.

Sekilas terdengar biasa. Bahkan masuk akal. Bukankah setiap hobi memang memiliki perlengkapan yang mendukung performa?

Awalnya saya mengira percakapan kami akan membahas bagaimana menjaga pace, meningkatkan VO2 max, atau cara tetap konsisten berlatih. Ternyata saya salah. Hampir sepanjang obrolan, yang dibicarakan justru perbandingan Adidas Adizero EVO SL dengan ASICS Superblast 3, yang belakangan saya ketahui dia beli dengan susah payah.

Ia menjelaskan dengan antusias teknologi foam terbaru, bobot sepatu yang lebih ringan, energy return, hingga pelari elite dunia yang mengenakannya. Semua penjelasannya benar. Teknologi memang membuat pengalaman berlari menjadi lebih nyaman dan efisien.

Namun, ada satu hal yang terasa janggal: logika finansial pace-nya hanya masuk Kategori santai atau easy run.

Penghasilannya belum benar-benar memberi ruang untuk membeli sepatu seharga jutaan rupiah. Masih ada cicilan yang harus diselesaikan, tabungan yang belum terbentuk, serta kebutuhan pokok yang jauh lebih mendesak.

Namun semua pertimbangan itu perlahan kalah oleh satu keyakinan yang kini semakin akrab di telinga banyak orang: jika ingin dianggap serius, perlengkapannya pun harus terlihat serius.

Dari percakapan sederhana itu, saya menyadari bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan lagi sekadar pilihan sepatu, melainkan pemahaman terhadap kondisi finansial pribadi secara utuh dan menyeluruh.

Dan ini bukanlah penghakiman, melainkan sebuah ironi yang perlu diselami bersama. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia edisi Juni 2026, masyarakat cenderung mengalokasikan porsi pendapatannya lebih besar untuk konsumsi, sementara ruang untuk menabung semakin menyempit.

Porsi belanja konsumsi meningkat dari 72,3% pada Mei menjadi 73,0% pada Juni 2026, sedangkan porsi tabungan turun dari 17,5% menjadi 17,0%.

Pergeseran ini mencerminkan meningkatnya tekanan pengeluaran rumah tangga yang mengurangi kemampuan masyarakat untuk menyisihkan sebagian pendapatannya sebagai tabungan.

Keinginan Menyamar Menjadi Kebutuhan

Kita hidup di masa ketika batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Bukan semata karena manusia menjadi lebih konsumtif, melainkan karena lingkungan terus membentuk persepsi baru tentang apa yang dianggap sebagai kebutuhan.

Media sosial memainkan peran besar dalam perubahan itu. Setiap hari kita disuguhi unggahan pelari dengan perlengkapan terbaik, pesepeda dengan sepeda karbon terbaru, pekerja yang memamerkan gawai terkini, hingga konten "racun" belanja yang dikemas begitu meyakinkan. Perlahan, semua itu membentuk standar baru tentang apa yang dianggap wajar.

Tanpa disadari, kita mulai merasa tertinggal ketika belum memiliki apa yang dimiliki orang lain.

Akhirnya, membeli tidak lagi semata soal fungsi. Membeli menjadi cara untuk tetap merasa sejajar secara sosial.

Di titik inilah keinginan berhasil menyamar sebagai kebutuhan. Bukan karena barang tersebut benar-benar dibutuhkan, melainkan karena kita takut dianggap kurang.

Yang menjadi menarik, tekanan itu tidak datang dari etalase toko, melainkan informasi itu datang deras dari layar ponsel yang nyaris tak pernah benar-benar mati.

Satu video ulasan. Satu unggahan influencer. Satu notifikasi diskon. Lalu muncul tombol yang begitu menggoda: Bayar Sekarang atau Bayar Nanti.

Jarak antara keinginan dan transaksi kini benar-benar hanya sejengkal dengan isi pikiran yang rentan.

Belum berhenti di situ, iklan pinjaman online terus berdatangan dan seolah seperti bisikan dari surga yang menenangkan: proses mudah, dana cepat cair, tanpa agunan. Ketidakmampuan finansial seolah bukan lagi masalah karena selalu ada pinjaman yang siap menutupinya.

Padahal, yang sering kali ditutup bukan kebutuhan mendesak, melainkan gaya hidup yang datang lebih cepat daripada kemampuan finansial.

Sayangnya, percepatan teknologi tidak selalu diikuti percepatan literasi keuangan.

Hari ini kita jauh lebih mudah membelanjakan uang daripada memahami konsekuensi membelanjakannya.

Paylater dan pinjaman online bukanlah musuh. Dalam situasi tertentu, keduanya bahkan dapat menjadi solusi. Persoalan muncul ketika fasilitas tersebut digunakan untuk mengejar gaya hidup yang belum mampu ditopang oleh pendapatan.

Teknologi tetap menjadi akselerator yang ulung. Namun, ia tidak pernah menyediakan rem. Akibatnya, banyak orang melaju lebih cepat daripada kemampuan keuangannya sendiri.

Rem Finansial yang Makin Blong

Banyak orang beranggapan bahwa persoalan utama keuangan masyarakat Indonesia adalah pendapatan yang belum cukup besar.

Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Tidak sedikit orang dengan penghasilan tinggi tetap mengalami kesulitan finansial karena gagal mengendalikan pengeluaran.

Sebaliknya, banyak pula mereka yang berpenghasilan biasa justru mampu membangun kondisi keuangan yang sehat karena disiplin membedakan kebutuhan dan keinginan.

Artinya, akar persoalannya bukan semata pada besarnya pendapatan. Yang lebih mendasar adalah kualitas pengambilan keputusan finansial.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total pinjaman online masyarakat mencapai Rp103,73 triliun hingga Mei 2026. Kelompok usia 19–34 tahun menyumbang sekitar 48,65 persen kredit bermasalah di industri tersebut.

Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada cerita tentang anak muda yang penghasilannya belum stabil, tetapi tuntutan gaya hidupnya terus meningkat.

Ada keputusan-keputusan kecil yang tampak sepele ketika diambil, tetapi berubah menjadi beban ketika tagihan datang bersamaan.

Utang besar sering kali tidak lahir dari satu keputusan besar. Ia tumbuh dari banyak keputusan kecil yang dibiarkan tanpa pertimbangan.

Barangkali, kemampuan finansial yang paling penting hari ini bukanlah menghasilkan uang lebih banyak.

Melainkan memiliki keberanian untuk berkata, "belum."

Belum ketika penghasilan belum memungkinkan.

Belum ketika tabungan belum cukup.

Belum ketika alasan membeli hanya agar terlihat setara dengan orang lain.

Belum ketika strategi pengeluaran tidak dimiliki.

Belum jika literasi dan inklusi keuangan, dua hal penting untuk kesejahteraan ekonomi belum sepenuhnya dipahami.

Rem finansial bukan berarti menolak semua keinginan atau hidup dalam keterbatasan yang dipaksakan. Rem adalah kemampuan untuk memberi jeda dan menjadi penolong sejati di masa depan, kita ingin tumbuh bareng kamu.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: