Presiden Prancis Serukan Penangguhan Investasi di AS Buntut Kebijakan Tarif Donald Trump

Oleh: Harits Tryan Akhmad
Sabtu, 05 April 2025 | 14:30 WIB
Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (Instagram/emmanuelmacron)
Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (Instagram/emmanuelmacron)

BeritaNasional.com - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengkritik tajam kebijakan tarif impor yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menetapkan tarif minimum 10% pada sebagian besar barang impor, dengan tarif lebih tinggi sebesar 20 persen khusus untuk produk dari Uni Eropa.

Macron menyebut langkah tersebut sebagai "brutal dan tidak berdasar," serta menyarankan perusahaan-perusahaan Prancis untuk menunda investasi mereka di AS hingga situasi menjadi lebih jelas.  

“Investasi-investasi di masa depan, yang diumumkan dalam beberapa minggu terakhir, seharusnya ditangguhkan untuk sementara waktu selama situasi dengan Amerika Serikat belum jelas,” kata Macron dikutip dari The Guardian, Sabtu (5/4/2025).

Ia juga menyarankan adanya langkah-langkah terhadap sektor teknologi AS “di mana Amerika Serikat sangat diuntungkan dari Eropa,” dan menambahkan, “Tidak ada yang dikecualikan. Semua opsi ada di atas meja.”

Kebijakan tarif ini telah memicu kekhawatiran global akan potensi perang dagang dan resesi ekonomi. Pasar saham mengalami penurunan tajam, dengan Wall Street kehilangan $2,5 triliun dalam nilai pasar. Indeks Nasdaq memasuki wilayah pasar bearish, dan Dow Jones mengalami koreksi signifikan.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez juga mengecam tarif proteksionis Trump, dengan menyebutnya bertentangan dengan kepentingan jutaan warga di Eropa dan Amerika Serikat, yang akan terkena dampaknya dalam bentuk penurunan daya beli dan gangguan pada bisnis mereka.

Dalam pidatonya yang keras di Madrid, Sánchez mengatakan pemerintahan AS tidak membedakan antara teman dan musuh: “Mereka menentang siapa pun dan apa pun.” Ia menyebut tarif tersebut sebagai serangan “sepihak” dan “belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Eropa, seraya menambahkan, “Kembali ke proteksionisme abad ke-19 bukanlah cara cerdas menghadapi tantangan abad ke-21.”sinpo

Editor: Harits Tryan Akhmad
Komentar: