4 Pelaku Riset Palsu Incar Travel Grant untuk Jalan-jalan ke Luar Negeri Bakal Diproses Hukum

Oleh: Ahda Bayhaqi
Selasa, 02 Juni 2026 | 17:11 WIB
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memberikan penjelasan dalam rapat kerja Komisi X DPR. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memberikan penjelasan dalam rapat kerja Komisi X DPR. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkap ada empat pelaku riset palsu peneliti Indonesia di Forum Ilmiah Internasional. 

Empat orang ini disebut lulusan sarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Namun, empat orang itu tidak berafiliasi atau dosen di UNY.

"Ini kami sudah membentuk tim dan sudah berkoordinasi dengan UNY. Bahwa benar empat orang itu, tadi seperti yang ditanyakan, bahwa benar empat orang itu lulusan S1-nya adalah UNY. S2-nya berbeda-beda. Tetapi, memang setelah kami cek di seluruh database perguruan tinggi, keempatnya itu tidak berafiliasi atau bukan dosen di perguruan tinggi tersebut," ujar Brian saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Para pelaku mengincar travel grant agar bisa jalan-jalan ke luar negeri. Brian mengatakan, tujuan tersebut tidak bijak dan tidak etis.

"Tetapi motifnya adalah, setelah beberapa hal kami dapati, mereka ingin mendapatkan travel grant. Jadi memang ada beberapa lembaga yang memberikan bantuan untuk dosen-dosen muda menghadiri konferensi internasional gitu ya, peneliti-peneliti muda. Nah, ini yang kemudian dimanfaatkan secara tidak bijak ya, oleh oknum-oknum ini," ujarnya.

Kasus ini, menurut Brian, mencoreng peneliti Indonesia yang kredibel dan berdedikasi. Ia memastikan akan memproses dan menindak para pelaku.

"Dari tim hukum kami sedang mencari celah apa yang bisa digunakan untuk melakukan proses tindakan hukum lebih lanjut. Karena kami sepakat bahwa ini perlu ada efek jera, dan perlu juga untuk membesarkan hati teman-teman kita peneliti yang memang serius melakukan penelitian, serius menyiapkan bahan dan pergi ke luar negeri," tegasnya.

Brian mengungkapkan tim investigasi masih melakukan pengumpulan data. Kemendiktisaintek membuka masukan dari masyarakat umum yang memiliki data spesifik.

Data ini diperlukan untuk proses hukum selanjutnya untuk memberikan efek jera. Karena itu, Kemendiktisaintek menggandeng aparat penegak hukum. Sebab, pelaku tidak bisa diproses secara etik karena tidak terafiliasi dengan kampus sebagai dosen atau peneliti.

"Nah, kita akan mencari delik yang nanti sesuai. Kita tentu akan berkoordinasi barangkali juga kita mengundang aparat hukum begitu ya, penegak hukum, untuk kemudian kita lihat mana hal-hal yang bisa ditindaklanjuti untuk ditegakkan secara hukum," tegas Brian.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: