Vokal Sampaikan Kritik, Viva Nilai Tiyo tak Lagi Cerminkan Tokoh Intelek Akademis
BeritaNasional.com - Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi menilai kritik yang kerap disampaikan mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM UGM 2025 Tiyo Ardianto tidak lagi lagi objektif bahkan tidak mencerminkan tokoh kampus yang intelek akademis. Tiyo juga dinilai sebagai mahasiswa yang menciderai kecerdasan intelektual, melukai moralitas insan akademis dengan menyerang secara verbal pribadi Presiden Prabowo (personal attack) yang menggunakan pilihan diksi yang kotor, jauh dari tuntunan agama.
"Semestinya jika mengkritik ya serang kebijakannya. Dikuliti sampai habis dengan adu data dan argumentasi. Jangan melakukan tindakan demonisasi yang berpikir bahwa pemerintah di pihak yang selalu salah mutlak, karena cara pandang yang gelap mata, miopis, stigma, dan prasangka buruk. Lalu kemudian menyerang pribadi dan identitas seseorang," ujarnya.
Viva juga mengatakan menyerang pribadi adalah hal yang tabu dan memalukan bagi kaum intelektual Sikap Tiyo telah melenceng dari tradisi kampus yang menjunjung tinggi etika dan kebebasan berpikir, independen dan heroik, serta berargumentasi berbasis data.
"Adinda Tiyo kemungkinan menurut saya telah tersesat di jalan algoritma media sosial yang membius mata hatinya. Puja-puji telah merubah jati dirinya karena sedang mengalami glorifikasi dan culture shock," imbuhnya.
Ia kemudian meminta Tiyo untuk kembali menjadi kritikus yang cerdas, keren dengan menjaga etika dan bahasa kaum intelektual.
"Kritikus yang cerdas adalah ketika ia memiliki kesadaran teologis dan ideologis bahwa perjuangannya untuk kepentingan rakyat dan bangsa, yang dapat menyajikan data banding yang lebih akurat, valid, disertai logika berpikir yang logis dan akademis," tegasnya, Rabu (17/6/2026)
Meski pun mengkritik keras tindakan Tiyo dinilai melenceng, Viva yang wakil menteri Transmigrasi ini menyampaikan apresiasinya terhadap pria 23 tahun tersebut yang dianggap representasi mahasiswa masa kini, yang kritis, berani, dan tampan. Kritiknya mewakili kaum oposisi dan kelompok kritis.
"Dalam teori demokrasi, kritik itu penting untuk membangun check and balances agar arah demokrasi bisa maju dan produktif"
Sikap pemerintah dalam merespon kritik sangat terbuka, normal dan proposional saja karena hal itu menyangkut hak politik setiap warga negara. Tidak ada sikap represif atau koersif (ancaman) dari pemerintah atas kritik. Dalam UUD 1945 menyatakan setiap warga negara bebas merdeka untuk berserikat, berkumpul, dan berpendapat baik lisan maupun tertulis.

EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






