Ekonom Nilai Penurunan PMI Momen untuk Perkuat Industri Nasional
BeritaNasional.com - Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini mengatakan, penurunan purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia menjadi 46,9 pada Juni 2026 menjadi momentum untuk memperkuat transformasi industri nasional lewat investasi berkualitas dan perbaikan iklim usaha.
Menurut Didik, PMI manufaktur yang berada di bawah level 50 menunjukkan sektor industri sedang menghadapi tantangan. Oleh karena itu butuh kebijakan yang lebih konsisten guna meningkatkan daya saing manufaktur dalam jangka panjang.
"Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50," kata Didik.
Ia mengatakan, penguatan sektor industri menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi memerlukan dukungan aktivitas manufaktur yang kuat, investasi produktif. Selai itu juga penciptaan lapangan kerja.
Menurut dia, dunia usaha membutuhkan kepastian kebijakan, penyederhanaan birokrasi, serta insentif yang mampu meningkatkan minat investasi di sektor industri.
"Dunia usaha tidak akan berinvestasi selama tidak ada kebijakan yang jelas. Selain itu hambatan birokrasi yang ruwet, dan insentif yang tidak memadai susah guna menjadikan industri tumbuh pesat," ujarnya.
Didik menilai, transformasi industri perlu diiringi deregulasi dan debirokratisasi agar mampu meningkatkan produktivitas. Selain itu juga akan memperkuat daya saing manufaktur Indonesia.
Ia mencontohkan, Indonesia pernah mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 7-8 persen dengan pertumbuhan sektor industri mencapai 10-12 persen pada dekade 1980-an hingga 1990-an ketika kebijakan pengembangan industri dijalankan secara konsisten.
Menurut Didik, pengalaman tersebut menunjukkan penguatan sektor industri dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ia mengatakan, Indonesia bisa belajar dari Vietnam yang membangun industri berorientasi ekspor melalui investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) berkualitas. Lalu meningkatkan kemampuan industri domestik melalui transfer teknologi dan inovasi.
"Strategi industri Vietnam adalah strategi outward looking. Ini sama dengan yang dilakukan Indonesia pada tahun 1980-an. Tahapannya adalah menarik FDI yang berkualitas," ucap dia.
Menurut dia, keberhasilan Vietnam hingga dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen tidak terlepas dari kebijakan transformasi industri yang dijalankan secara konsisten selama dua hingga tiga dekade terakhir.
Sumber: Antara

POLITIK | 1 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 19 jam yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







