MASTEL: Indonesia Jangan Sampai Tertinggal dalam Pengembangan 6G seperti 5G
BeritaNasional.com - Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), Sarwoto Atmosutarno, mengingatkan pentingnya menyiapkan kebijakan spektrum sejak dini agar Indonesia tidak kembali tertinggal dalam pengembangan teknologi telekomunikasi generasi terbaru atau 6G.
Hal itu disampaikan Sarwoto dalam Seminar Nasional bertajuk "Nilai Strategis Alokasi Spektrum Upper 6 GHz untuk Mobile Broadband 5G Advanced dan 6G di Indonesia".
Menurutnya, meski teknologi 6G hingga kini belum dikomersialisasikan di negara mana pun, Indonesia perlu mulai mempersiapkan ekosistemnya agar tidak mengulangi keterlambatan adopsi seperti yang terjadi pada 5G.
"Kalau 6G di seluruh dunia belum ada yang mengomersialkannya. Jangan sampai Indonesia tertinggal seperti saat 5G," ujar Sarwoto di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Ia menilai lambatnya pembahasan mengenai kesiapan spektrum menjadi salah satu faktor yang membuat implementasi 5G di Indonesia berjalan tidak optimal.
Padahal, sejumlah frekuensi yang sebelumnya diproyeksikan untuk mendukung layanan 5G kini telah dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk satelit.
"Jangan-jangan 5G kita terlambat karena kita kurang membahas persoalan seperti ini. Tahu-tahu frekuensi yang akan datang justru dipakai satelit, padahal itu untuk 5G," katanya.
Karena itu, Sarwoto menilai penataan spektrum harus dilakukan sejak sekarang dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan, mulai dari layanan satelit, microwave, hingga kebutuhan pertahanan.
Menurutnya, setiap kebijakan juga perlu didukung analisis biaya dan manfaat agar implementasinya memberikan nilai ekonomi yang optimal.
"Harus ditata dari sekarang supaya ada analisis cost-benefit. Kalau misalnya penggunaan microwave dikurangi, apa manfaatnya bagi sektor lain? Pada akhirnya implementasi teknologi selalu berkaitan dengan aspek ekonomi," jelasnya.
Peluang Langsung Melompat ke 6G
Sarwoto juga menilai Indonesia tidak harus terpaku mengejar pemerataan 5G sebelum mulai mempersiapkan 6G. Menurutnya, secara bisnis dan teknologi, peluang untuk langsung beralih ke generasi berikutnya tetap terbuka apabila dinilai lebih menguntungkan.
Ia menjelaskan, teknologi 5G pertama kali diimplementasikan secara komersial pada 2017 setelah sekitar lima tahun menjalani tahap riset dan pengembangan. Sementara itu, penetrasi 5G di Indonesia hingga kini masih jauh di bawah banyak negara lain.
"Sekarang negara lain penetrasinya sudah di atas 70 persen. Kita masih di bawah 10 persen. Jadi kalau 5G lelet-lelet, lalu nanti langsung lari ke 6G, ya tidak ada masalah," ujarnya.
Namun demikian, keputusan tersebut tetap bergantung pada kebutuhan pasar dan kesiapan industri.
Menurut Sarwoto, operator seluler akan mempertimbangkan aspek keekonomian sebelum melakukan investasi besar-besaran membangun jaringan 5G. Selama jumlah perangkat yang mendukung 5G masih terbatas, investasi penggantian seluruh BTS dari 4G ke 5G dinilai belum memberikan keuntungan yang memadai.
"Kalau saya operator seluler, saya lihat dulu berapa banyak ponsel yang sudah 5G enabled. Kalau harus investasi besar mengganti BTS, sementara perangkat yang mendukung 5G masih di bawah 20 persen, secara ekonomi tentu belum menarik," katanya.
Meski demikian, ia optimistis adopsi 5G akan meningkat seiring semakin terjangkaunya harga perangkat yang mendukung jaringan tersebut.
"Kalau suatu saat harga handset 5G sama seperti ponsel 4G sekarang, misalnya di kisaran satu sampai dua juta rupiah, adopsinya pasti akan semakin cepat," pungkasnya.
GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 23 jam yang lalu
HUKUM | 23 jam yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
HUKUM | 17 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu







