Ingatkan Longsor Susulan di Bandung Barat, Badan Geologi Imbau Warga yang Tinggal di Lereng Mengungsi

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:20 WIB
Tim SAR saat mengevakuasi jenazah korban longsor di Cisarua, Bandung Barat. (Foto/istimewa)
Tim SAR saat mengevakuasi jenazah korban longsor di Cisarua, Bandung Barat. (Foto/istimewa)

BeritaNasional.com - Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan peringatan dini bagi warga Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. 

Plt. Kepala Badan Geologi Lana Saria mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman longsor susulan, terutama jika hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur wilayah tersebut dalam durasi yang lama.

Mengingat tingginya potensi longsor susulan, pihaknya meminta masyarakat yang tinggal di area lereng curam untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Masyarakat yang tinggal di dekat lereng curam diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan deras, mengingat potensi terjadinya gerakan tanah susulan masih tinggi," paparnya pada Minggu (25/1/2026).

Tak hanya bagi warga, Lana juga mengingatkan para petugas SAR dan relawan yang sedang mencari korban hilang agar selalu memperhatikan kondisi cuaca demi keselamatan nyawa mereka sendiri.

"Penanganan longsoran dan pencarian korban hilang agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan yang bisa menimpa petugas," tuturnya.

Lana menjelaskan bahwa bencana besar yang melanda Pasirlangu pada Sabtu (24/1/2026) dipicu oleh akumulasi curah hujan ekstrem yang melemahkan struktur tanah.

"Faktor pemicu utamanya adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, yang menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng," ujarnya dalam keterangan resmi.

Kombinasi Geologi dan Aktivitas Manusia

Selain faktor cuaca, Lana menambahkan bahwa kondisi geologi setempat memang sangat rentan. Wilayah tersebut didominasi oleh batuan gunung api tua yang sudah lapuk dan memiliki kemiringan lereng yang sangat curam.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), Pasirlangu masuk dalam kategori zona menengah. Risiko ini semakin diperparah oleh aktivitas manusia, seperti pemotongan lereng untuk pemukiman dan jalan, serta sistem drainase yang kurang optimal.

"Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas," jelas Lana.

Merespons bencana ini, Badan Geologi telah mengerahkan Tim Tanggap Darurat (TTD) untuk memetakan area terdampak seluas 30 hektare. Tim ini bertugas mencari penyebab pasti gerakan tanah sekaligus menyusun rekomendasi teknis bagi pemerintah daerah.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hadi Wijaya, mengonfirmasi bahwa tim tersebut sudah mulai bekerja di lapangan.

"Tim Tanggap Darurat Badan Geologi saat ini sudah berada di lokasi terjadinya tanah longsor. Tim akan melakukan pemeriksaan di lokasi bencana untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana," tandasnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: