Sidang Isbat 2026 Digelar Hari Ini, MUI Minta Umat Hormati Perbedaan

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 19 Maret 2026 | 16:42 WIB
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (tengah) saat sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1446 H. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam)
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (tengah) saat sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1446 H. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam)

BeritaNasional.com - Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Amirsyah Tambunan, mengajak umat Islam untuk menunggu hasil sidang isbat dalam menentukan awal Syawal 1447 Hijriah.

Menurutnya, penetapan 1 Syawal merupakan ranah ijtihad ulama yang membuka ruang perbedaan pandangan. Karena itu, masyarakat diminta tidak terburu-buru dalam menyikapi penentuan hari raya Idul Fitri.

"Ini wilayah ijtihadi para ulama. Sedangkan peran umara' menetapkan (isbat), seperti wasit yang menjadi fasilitator sebagai jembatan untuk mempertemukan perbedaan," kata Buya Amirsyah dikutip dalam laman MUI, Kamis (19/3/2026).

Ia menegaskan, jika terjadi perbedaan hasil sidang isbat, umat Islam perlu mengedepankan sikap toleransi atau tasamuh. Perbedaan tersebut harus disikapi dengan lapang dada tanpa saling menyalahkan.

"Namun jika terdapat perbedaan maka perlu sikap toleransi (tasamuh) dalam wilayah perbedaan (majalul i'tilaf). Sikap tasamuh dalam bentuk lapang dada sehingga tidak menimbulkan sikap saling menyalahkan. Yang penting memiliki dasar kuat mencari kebenaran, bukan pembenaran," tegasnya.

Buya Amirsyah juga menjelaskan dua metode utama dalam penentuan awal bulan Hijriah, yakni hisab dan rukyat. Keduanya sama-sama digunakan untuk memastikan keberadaan hilal sebagai penanda pergantian bulan.

"Bil-Ilmi menggunakan astronomi untuk menghitung posisi hilal, sedangkan Bil Ru'yah menggunakan pengamatan fisik hilal secara langsung atau dengan alat. Keduanya bertujuan menemukan hilal," ujarnya.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: