IHSG Ditutup Menguat di Angka 7.279,2 Seiring dengan Gencatan Senjata AS-Iran

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 08 April 2026 | 16:39 WIB
Ilustrasi IHSG dan BEI. (BeritaNaisonal/IDX)
Ilustrasi IHSG dan BEI. (BeritaNaisonal/IDX)

BeritaNasional.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/4/2026) sore ditutup menguat 308,18 atau 4,42 persen ke angka 7.279,21. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 31,96 poin atau 4,55 persen ke posisi 733,62.

Penguatan IHSG ini didorong oleh euforia investor seiring dengan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sehingga Selat Hormuz bisa dilintasi secara aman dengan sejumlah syarat.

"Penguatan IHSG yang melonjak signifikan, tidak lepas dari munculnya sentimen positif global yang bersifat jangka pendek, terutama kabar meredanya tensi geopolitik antara AS dan Iran," ujar Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Rabu.

Dari mancanegara, Hendra mengatakan, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan selama dua pekan, dan diikuti langkah Iran yang membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz, langsung disambut positif oleh pelaku pasar.

Ia menyebut, kondisi tersebut menurunkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, sehingga harga komoditas menjadi lebih stabil dan mendorong minat beli investor kembali masuk ke pasar saham, termasuk Indonesia.

Secara fundamental, ia menjelaskan, pasar memang sangat sensitif terhadap isu geopolitik, khususnya yang berkaitan dengan jalur distribusi minyak dunia seperti Selat Hormuz. Ketika risiko konflik menurun, investor global cenderung melakukan risk-on, yaitu kembali masuk ke aset berisiko seperti saham di emerging market.

"Inilah yang kemudian mendorong seluruh sektor di IHSG bergerak hijau, dengan saham-saham berbasis komoditas dan energi menjadi motor penguatan,” ujar Hendra.

Namun demikian, Hendra mengingatkan pelaku pasar untuk tetap perlu mewaspadai karakter kebijakan dan komunikasi dari Trump yang cenderung dinamis dan sering berubah dalam waktu singkat.

Ia pun mengingatkan, pernyataan yang bersifat tiba-tiba dapat kembali memicu volatilitas di pasar global, sehingga reli yang terjadi saat ini masih berpotensi bersifat sementara atau technical rebound, bukan tren naik jangka panjang yang sepenuhnya solid.

Dengan demikian, strategi terbaik bagi investor adalah tetap selektif dan disiplin dalam mengambil posisi, yang mana momentum rebound ini bisa dimanfaatkan untuk trading jangka pendek, namun tetap perlu disertai manajemen risiko yang ketat.

"Euforia berlebihan justru berisiko membuat investor masuk di harga puncak, terutama di tengah kondisi pasar yang masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global yang fluktuatif," ujar Hendra.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: