Hamas Tunjuk Pemimpin Barunya saat Gaza Kembali Memanas, Simak Profil Khalil Al-Hayya
BeritaNasional.com - Di tengah memanasnya kembali perang di Gaza, pada Senin (20/7/2026) kemarin, Hamas telah memilih pemimpin baru mereka untuk menggantikan Yahya Sinwar yang tewas dibunuh. Pemimpin baru kelompok tersebut adalah Khalil Al-Hayya.
Melansir Russia Today (RT) pada Selasa (21/7/2026), Al-Hayya sebelumnya menjabat sebagai kepala Hamas di Gaza dalam pengasingan dan juga kepala negosiator gencatan senjata. Dalam pemilihan di internal Hamas itu, Al-Hayya bersaing melawan Khaled Meshaal, mantan kepala biro politik dan pemimpin lama sayap eksternal Hamas.
Media Arab melaporkan, Al-Hayya dianggap "lebih garis keras" daripada Meshaal. Bahkan, menurut Reuters, Al-Hayya juga termasuk di antara pejabat senior Hamas yang menjadi sasaran serangan Israel tahun 2025 di Doha, tempat ia bermarkas.
Hamas sendiri tengah menghadapi krisis di Gaza dan sekitarnya. Pemilihan pemimpin baru mereka terjadi di salah satu momen paling sulit bagi Hamas sejak kelompok itu didirikan pada 1987. Hamas telah terpukul oleh perang selama bertahun-tahun setelah serangan 7 Oktober ke Israel.
Tak hanya itu, Hamas juga menghadapi tuntutan internasional yang semakin meningkat untuk melucuti senjata, dan kehilangan sejumlah tokoh senior dalam pembunuhan yang dilakukan Israel.
Pemimpin Hamas sendiri telah beberapa kali berganti selama dua tahun terakhir. Setelah Ismail Haniyeh dibunuh di Teheran pada akhir Juli 2024, Yahya Sinwar menjadi pemimpin gerakan tersebut. Sinwar, yang secara luas digambarkan sebagai salah satu dalang serangan 7 Oktober, sendiri terbunuh pada musim gugur 2024.
Setelah itu, Hamas membentuk dewan kepemimpinan senior beranggotakan lima orang yang termasuk Al-Hayya dan Meshaal, bersama dengan tiga pejabat lainnya.
Adapun proses pemilihan pemimpin baru Hamas ini dimulai pada Januari, tetapi terganggu oleh perang di Iran dan Lebanon, serta kampanye militer Israel yang berkelanjutan di Gaza. Ketika pemungutan suara akhirnya diadakan, sebuah dewan beranggotakan 50 orang yang terdiri dari perwakilan Hamas dari Gaza, Tepi Barat (termasuk anggota yang ditahan di penjara Israel), dan pemimpin kelompok yang berada di pengasingan juga ikut serta.
Sembilan bulan usai gencatan senjata, baik Israel maupun Hamas belah pihak dituduh melakukan pelanggaran hampir setiap hari. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, serangan Israel selama 275 hari tersebut menewaskan 1.122 warga Palestina dan melukai 3.599 orang. Hamas juga melanggar gencatan senjata, menewaskan beberapa tentara Israel dan melakukan eksekusi tanpa pengadilan serta bentrokan bersenjata dengan faksi-faksi saingannya.
Hamas juga berada di bawah tekanan internasional yang terus meningkat yang ingin melucuti senjata mereja di bawah rencana gencatan senjata Gaza Presiden AS Donald Trump, yang menyerukan penarikan militer Israel dan pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina baru di Gaza.
Siapa Khalil Al-Hayya?
Melansir RT, Khalil Al-Hayya lahir di Gaza pada tahun 1960 dan telah menjadi anggota Hamas sejak kelompok itu didirikan pada tahun 1987. Al-Hayya memulai kariernya melalui kepemimpinan lokal di Gaza sebelum akhirnya menjadi salah satu tokoh politik paling senior dan tokoh kunci dalam negosiasi gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Nasib tragis juga menimpa Al-Hayya, karena beberapa anggota keluarganya telah dibunuh oleh Israel selama agresi. Istrinya dan tiga anaknya meninggal dunia saat upaya pembunuhan terhadap dirinya pada tahun 2007 silam.
Al-Hayya disebut memainkan peran sentral dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel selama perang Gaza tahun 2014 dan 2023. Ia juga telah lama dikaitkan dengan hubungan Hamas dengan Iran dan 'Poros Perlawanan' yang lebih luas, yang mencakup Hizbullah.
Sementara itu, para analis yang dikutip oleh Reuters mengatakan bahwa pengangkatan Al-Hayya dapat menandakan posisi Hamas yang lebih keras sebagai tanggapan atas tuntutan internasional agar Hamas melucuti senjata.
Usai pengumuman pemimpi baru Hamas ini, Hizbullah menyampaikan selamat kepada Hamas atas terpilihnya Al-Hayya, dan menggambarkan pemungutan suara tersebut sebagai bukti bahwa kelompok itu tetap "kuat dan bersatu" meskipun terjadi perang dan pembunuhan beberapa pemimpinnya.
Sumber: Russia Today
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu






