TNI AD Mulai Siapkan 1.000 Prajurit untuk Misi Perdamaian di Gaza
BeritaNasional.com - TNI Angkatan Darat (AD) mulai menyiapkan prajurit yang akan dikirim sebagai pasukan perdamaian di Gaza, Palestina. Mereka dari Matra Darat nantinya akan menjadi bagian dari total 8.000 prajurit yang direncanakan pemerintah Indonesia untuk misi tersebut.
Pengiriman pasukan ini merupakan tindak lanjut setelah Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, sebuah badan internasional yang dibentuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengawal stabilisasi dan rehabilitasi pascakonflik di Gaza.
“Pemeriksaan kesehatan dan penyiapan administrasi dilakukan hingga Februari, sedangkan gelar kesiapan pasukan dijadwalkan pada akhir Februari,” kata Kadispenad, Brigjen TNI Donny Pramono, saat dikonfirmasi, Minggu (15/2/2026).
Donny menjelaskan, saat ini TNI AD menargetkan 1.000 personel untuk nantinya digabung ke dalam 8.000 prajurit TNI dari tiga matra, yang kemungkinan akan diberangkatkan pada akhir Juni 2026.
“Sekitar 1.000 personel ditargetkan siap berangkat awal April 2026, dan seluruh elemen 8.000 personel diharapkan siap berangkat paling lambat akhir Juni 2026,” ujarnya.
Meski begitu, Donny menegaskan, rencana pengiriman pasukan masih dalam tahap pembahasan. Fokus TNI AD saat ini adalah menyiapkan kesiapan prajurit agar benar-benar siap diberangkatkan sewaktu-waktu.
“Sebagaimana disampaikan Karo Humas Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, rencana pengiriman sekitar 8.000 personel masih dalam tahap persiapan dan menunggu keputusan Presiden RI,” tambahnya.
Sebelumnya, Karo Infohan Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa tujuan kehadiran prajurit TNI di Gaza adalah untuk mendukung stabilisasi dan misi kemanusiaan, yakni pembangunan rekonstruksi dan pelayanan medis.
“Terkait pemberitaan tersebut, dapat kami tegaskan bahwa fokus perencanaan Indonesia dalam kerangka dukungan stabilisasi dan kemanusiaan di Gaza adalah unsur rekonstruksi serta pelayanan kesehatan/medis,” jelas Rico saat dihubungi, Kamis (12/2/2026).
Rico juga meluruskan informasi yang sempat beredar di media sosial terkait tugas prajurit TNI yang dikabarkan akan terlibat dalam demiliterisasi, termasuk pelucutan senjata Hamas.
“Narasi bahwa pasukan Indonesia akan dilibatkan untuk melucuti pihak tertentu atau menjalankan disarmament, seperti yang disebut dalam pemberitaan, tidak sesuai dengan fokus yang disiapkan Indonesia,” tegasnya.
“Indonesia hadir untuk mendukung perdamaian dan kemanusiaan, bukan untuk memerangi atau berhadapan dengan pihak yang bertikai,” sambung Rico.
Sementara itu, Rico menyampaikan, sampai saat ini, terkait operasional maupun komposisi akhir prajurit yang dikerahkan, masih menunggu kejelasan mandat internasional, aturan misi, dan keputusan resmi pemerintah.
“Namun prinsipnya, kontribusi Indonesia akan tetap berada dalam koridor stabilisasi, rekonstruksi, dan pelayanan kesehatan,” terang dia.
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu







