Bangun Budaya Literasi Anak lewat Lokakarya Membaca Nyaring

Oleh: Kiswondari
Kamis, 14 Mei 2026 | 15:01 WIB
Para guru, koordinator kelas dan wali murid dalam Lokakarya Membaca Nyaring Kemendikdasmen di Jakarta, Rabu (13/5/2026). (BeritaNasional/Kemendikdasmen)
Para guru, koordinator kelas dan wali murid dalam Lokakarya Membaca Nyaring Kemendikdasmen di Jakarta, Rabu (13/5/2026). (BeritaNasional/Kemendikdasmen)

BeritaNasional.com - Meskipun terdengar sederhana, membacakan buku dengan suara nyaring atau keras kepada anak ternyata menyimpan manfaat besar, mulai dari melatih kemampuan menyimak, mengasah keterampilan, hingga menumbuhkan rasa cinta terhadap buku sejak dini.

Untuk itu, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen menggelar Lokakarya Membaca Nyaring dengan tema “Membaca Buku Menumbuhkan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” di Jakarta, Rabu (13/5/2026), sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Buku Nasional 2026.  

Penasihat DWP Kemendikdasmen Masmidah Abdul Mu'ti mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dinilai relevan dengan kondisi literasi nasional saat ini. Menurutnya, rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia menjadi perhatian bersama, terlebih di tengah tingginya penggunaan gawai pada anak-anak.

“Kita seperti korban menjadi teknologi. Penggunaan gawai sudah luar biasa, bahkan bisa mencapai 6-7 jam per hari dan termasuk tertinggi di dunia. Karena itu sangat relevan ketika hari ini kita membangun budaya senang membaca, terutama kepada anak-anak dan generasi muda,” kata Musmaidah yang dikutip dari laman resmi, Kamis (14/5/2026).

Menurut Masmidah, kebiasaan membaca pada anak adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda.

“Anak-anak yang tumbuh bersama buku akan memiliki kemampuan berpikir yang lebih terbuka, rasa ingin tahu yang lebih tinggi, serta kemampuan berkomunikasi dan berempati yang lebih baik,” terangnya.

Namun, kata dia, budaya membaca tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Anak-anak perlu didampingi, diberikan contoh, dan menciptakan suasana yang menyenangkan agar mereka mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian.

Masmidah lalu mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk menjadikan budaya literasi menjadi gerakan bersama.

“Mari kita jadikan gerakan literasi sebagai gerakan bersama. Hadirkan lebih banyak ruang membaca, lebih banyak cerita untuk anak-anak, dan lebih banyak waktu untuk mendampingi mereka mengenal dunia melalui buku,” imbuhnya.

Kemudian, Ketua DWP Kemendikdasmen Marlina Hafidz Muksin menyampaikan, lokakarya ini selaras dengan program prioritas pemerintah.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan dan peran aktif seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam membangun kebiasaan membaca pada anak, sesuai dengan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang salah satunya adalah membaca,” kata Marlina.

Dalam kesempatan itu, Marlina juga memaparkan bahwa tujuan penyelenggaraan lokakarya tersebut sebagai langkah penguatan budaya literasi hingga membangun kolaborasi antara sekolah dan orang tua.

“Kegiatan tujuan pada hari ini adalah menguatkan peran sekolah dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini, memberikan pemahaman dan keterampilan kepada guru serta koordinator kelas mengenai metode read aloud yang efektif dan menyenangkan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa literasi adalah tanggung jawab kita bersama,” tuturnya.

Kemudian, Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Muhammad Yusro menambahkan bahwa pembiasaan membaca menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kemampuan anak dalam memahami dan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi digital.

“Di tengah perkembangan teknologi digital dan beragam gangguan yang ada, minat membaca perlu terus ditumbuhkan melalui pendekatan yang kreatif, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak,” kata Yusro.

Ia juga mengajak orang tua dan guru untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai rutinitas sehari-hari karena perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama anak-anak.

“Luangkan waktu untuk membaca bersama anak-anak, karena dari kebiasaan kecil itulah akan lahir perubahan besar,” pesan Yusro.

Lokakarya diikuti 130 peserta dari 31 sekolah TK dan SD di Jakarta, terdiri dari guru, koordinator kelas, dan perwakilan orang tua.*** (sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: