Mengenal Fajar Shadiq: Penanda Penting Waktu Salat Subuh dan Puasa

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 09 Desember 2025 | 21:30 WIB
Ilustrasi fajar shadiq, tanda resmi dimulainya waktu salat Subuh sekaligus batas akhir waktu sahur bagi orang yang berpuasa. (Foto/freepik)
Ilustrasi fajar shadiq, tanda resmi dimulainya waktu salat Subuh sekaligus batas akhir waktu sahur bagi orang yang berpuasa. (Foto/freepik)

BeritaNasional.com - Setiap pagi selalu diawali dengan perubahan yang nyaris tak terdengar gelap perlahan surut, cahaya tipis mulai menyingkap ufuk timur. Dalam ajaran Islam, momen sunyi itu bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia dikenal sebagai fajar shadiq, tanda resmi dimulainya waktu salat Subuh sekaligus batas akhir waktu sahur bagi orang yang berpuasa.

Fajar shadiq bukan hanya cahaya pagi, tetapi juga penanda pergantian waktu ibadah yang sangat menentukan dalam kehidupan umat Muslim. Rasulullah SAW menegaskan bahwa awal waktu Subuh dimulai sejak terbitnya fajar yang sebenarnya hingga matahari terbit.

“Waktu salat Subuh dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbit.” (HR Muslim)

Apa Itu Fajar Shadiq? Ini Penjelasan Ilmiah dan Fikihnya

Secara sederhana, fajar shadiq adalah cahaya putih yang menyebar rata di ufuk timur sebagai tanda awal pagi yang sesungguhnya. Ia muncul setelah lenyapnya fajar kadzib, yakni cahaya semu yang tampak menjulang ke atas seperti ekor serigala dan kemudian menghilang.

Dalam kajian astronomi, sebagaimana dijelaskan dalam buku Kajian Waktu Subuh karya Marataon Ritonga dan tim, fajar shadiq muncul akibat hamburan cahaya matahari di lapisan atas atmosfer ketika posisi matahari masih berada di bawah horizon. Pada fase ini, matahari memang belum terbit, tetapi sinarnya sudah mulai memantul dan menerangi langit Timur secara perlahan.

Cahaya tersebut:
- Berwarna putih terang
- Menyebar secara horizontal di ufuk
- Terus menguat seiring waktu
- Berubah menjadi cahaya pagi hingga matahari benar-benar terbit

Meski secara ilmiah terdapat nuansa kebiruan yang sangat redup, mata manusia umumnya menangkapnya sebagai putih keabu-abuan yang semakin cerah dari menit ke menit.

Fajar Shadiq dalam Al-Qur’an: Batas Gelap dan Terang

Al-Qur’an menggambarkan momen terbitnya fajar shadiq dengan bahasa yang indah dan simbolis, yaitu saat “benang putih terlihat jelas dari benang hitam”. Ungkapan ini menjadi batas antara malam dan siang, sekaligus batas antara boleh dan tidaknya makan sahur bagi orang yang berpuasa.

Dalam buku Kisah Para Pencari Nikmatnya Shalat, Ahmad Rofi’ Usmani menjelaskan bahwa ayat tersebut menandai momentum ketika kegelapan malam mulai dikalahkan oleh cahaya pagi, sebuah peralihan waktu yang lembut namun tegas.

Tanda Resmi Dimulainya Salat Subuh dan Berakhirnya Sahur

Seluruh ulama sepakat bahwa awal waktu salat Subuh dimulai sejak terbitnya fajar shadiq, bukan fajar kadzib. Pada saat inilah:
- Salat Subuh sudah sah untuk didirikan
- Waktu sahur bagi yang berpuasa dinyatakan berakhir
- Malam secara hukum telah berganti menjadi siang

Sayyid Sabiq dalam Fiqh As-Sunnah menegaskan bahwa batas waktu Subuh berlangsung sejak terbit fajar shadiq hingga matahari terbit sepenuhnya. Setelah matahari tampak di ufuk, maka waktu Subuh pun berakhir.

Perbedaan Pendapat Ulama soal Waktu Terbaik Salat Subuh

Meski sepakat tentang batas awal Subuh, para ulama berbeda pandangan mengenai waktu paling utama (afdal) untuk melaksanakan salat Subuh.

1. Pendapat Ulama Kufah dan Ulama Irak
Abu Hanifah, Ats-Tsauri, dan sejumlah ulama Irak berpendapat bahwa salat Subuh lebih utama dilakukan saat cahaya pagi sudah mulai terang. Alasannya, agar lebih memastikan masuknya waktu Subuh secara jelas.

2. Pendapat Mayoritas Ulama Madzhab
Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, dan Daud berpandangan bahwa salat Subuh lebih utama dilaksanakan di awal waktu, ketika fajar baru terbit dan suasana masih gelap.

Perbedaan ini lahir dari cara masing-masing ulama memadukan berbagai riwayat hadits yang tampak berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak bersifat pertentangan, melainkan bagian dari kekayaan khazanah keilmuan Islam.

Fajar Shadiq: Cahaya Sunyi yang Menjadi Batas Ibadah

Di balik sinarnya yang lembut, fajar shadiq memikul peran besar dalam kehidupan spiritual umat Muslim. Ia menjadi batas antara malam dan siang, antara sahur dan imsak, antara tidur dan bangun menghadap Tuhan.

Setiap hari, tanpa suara, fajar shadiq mengajarkan tentang waktu, tentang ketepatan, dan tentang awal yang baru. Dari ufuk timur, cahaya itu hadir perlahan namun pasti—menjadi saksi dimulainya satu hari baru dan satu salat yang penuh keberkahan.

(Rep/Nissa)sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: