Boyong 91 Emas di SEA Games 2025 Thailand, Ada Kisah Para Atlet yang Tak Tersorot Kamera

Oleh: Kiswondari
Minggu, 21 Desember 2025 | 06:55 WIB
Boyong 91 emas di SEA Games 2025 Thailand, Ada kisah para atlet yang tak tersorot kamera. (BeritaNasional/YouTube Zona Juara Sports)
Boyong 91 emas di SEA Games 2025 Thailand, Ada kisah para atlet yang tak tersorot kamera. (BeritaNasional/YouTube Zona Juara Sports)

BeritaNasional.com - Pada penutupan SEA Games Thailand 2025, tim nasional (timnas) Indonesia berhasil memboyong 91 medali emas, 111 medali perak dan 131 medali perunggu dari berbagai cabang olahraga (cabor) berdasarkan data dari laman resmi SEA Games 2025, yang digelar 9-20 Desember 2025 di Thailand. Total, Indonesia berhasil mengumpulkan 333 medali dan menduduki posisi kedua klasemen.

Pada penutupan SEA Games 2025 Sabtu (20/12/2025) malam, atlet ice skating Kierana Alexandra Laut dipercaya membawa bendera Indonesia ketika kontingen Indonesia yang akan dipimpin Chef de Mission (CdM) Bayu Priawan Djokosoetono ketika berdefile dalam acara yang digelar di Rajamangala Stadium, Bangkok itu. 

Di balik cerita sukses para atlet yang berhasil naik ke podium, ada juga kisah para atlet yang harus menelan pil pahit kegagalan karena ketidakberuntungan mereka pada ajang ini. Sementara mereka sudah berjuang dan berlatih selama bertahun-tahun sebelumnya. 

Berikut adalah beberapa cerita para atlet Indonesia yang tidak tertangkap kamera, maupun naik ke podium SEA Games 2025, yang dilansir jurnalis Antara. 

Pada Kamis (18/12/2025) sore itu, di Hua Mark Velodrome, Bang Kapi, Bangkok, harapan tim balap sepeda Indonesia untuk merebut emas nomor men’s team pursuit kandas. Bukan karena kalah adu tenaga, melainkan akibat kendala teknis di detik-detik awal lomba.

Indonesia yang menurunkan Terry Yudha Kusuma, Juilan Abimanyu, Yosandy Darmawan Oetomo, Muhammad Andy Royan, dan Bernard Benjamin van Aert dinyatakan tidak finis setelah dua pembalap mengalami masalah klip pedal yang membuat tim didiskualifikasi. Kesalahan kecil, tetapi fatal ini seketika menghapus rencana yang disusun bertahun-tahun.

Para atlet sepeda yang sebelumnya penuh percaya diri berubah muram, salah satu yang paling jelas menampakkan kekecewaan adalah atlet muda Juilan Abimanyu, yang digadang-adang menjadi masa depan balap sepeda Indonesia. Terlebih ini merupakan debutnya di SEA Games dan nomor satu-satunya yang ia ikuti di Thailand.

Keyakinan itu bukan tanpa dasar, sebagai cabang olahraga terukur, catatan waktu Indonesia di atas kertas menjadi salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Bahkan beberapa jam sebelum lomba, para pembalap terlihat bersemangat, mengayuh sepeda di tengah padatnya jalanan Bangkok menuju stadion.

Mereka menyapa dengan gairah, dengan keyakinan bahwa hari itu akan menjadi milik mereka. Namun olahraga tak selalu berjalan sesuai rencana.

Cerita kekecewaan juga dirasakan atlet kickboxing Indonesia Andi Mesyara Jerni Maswara yang sempat meluapkan emosinya di media sosial karena merasa dicurangi, sebelum akhirnya memberikan klarifikasi. Pada akhirnya, olahraga menuntut sportivitas untuk menerima hasil, seberat apa pun rasanya.

Di cabang balap sepeda lainnya, Ayustina Delia Priatna memahami bagaimana rasanya kehilangan yang dirasakan rekan-rekannya. Ayustina pun tak mampu menahan haru ketika hanya meraih medali perunggu pada nomor trek scratch putri, kalah dari pembalap Malaysia Zubir Nur Aisyah Mohamad dan Valencia Tan asal Singapura.

Padahal sebelumnya, Ayustina sudah menyumbang emas dari nomor individual time trial (ITT) road race putri dengan catatan waktu 59 menit 18 detik, mengalahkan dua pembalap tuan rumah Thailand. Emas itu mengulang keberhasilannya pada SEA Games Vietnam 2021, setelah nomor tersebut absen di Kamboja 2023.

Namun, tangis Ayustina bukan hanya karena perunggu, melainkan karena empati. Ia tahu betul bagaimana rasanya berjuang keras namun hasilnya tak sesuai harapan. Kepada rekan-rekannya, Ayustina memberi semangat. Dia mengatakan kegagalan adalah bagian dari proses, dan proses itulah yang membentuk seorang juara.

Dari ring tinju, raut kekecewaan juga tampak jelas di wajah Maikhel Roberrd Muskita. Ia tertunduk lesu saat pengalungan medali perak setelah takluk dari petinju Filipina Eumir Felix Marcial dengan skor 1-4 pada final kelas 80 kilogram putra.

Kepada Antara, Maikhel mengaku kecewa karena selama ini banyak hal yang ia korbankan. Padahal hanya selangkah lagi ia bisa meraih medali emas. Namun, ia berjanji bangkit, menatap Asian Games 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028 sebagai tujuan berikutnya.

Selain cerita-cerita di atas, ada banyak lagi atlet lainnya yang merasakan hal serupa. Dari 1.021 atlet Indonesia yang dikirim, hanya sekitar sepertiga dari mereka yang berhasil naik ke podium. Sementara itu, ada ratusan atlet lainnya yang jarang disorot kamera, tidak ada tepuk tangan, hadiah, maupun ucapan selamat ataupun terima kasih untuk mereka. 

Terima kasih untuk semua atlet dan para tim official yang telah berjuang dalam SEA Games 2025, percayalah bahwa hari esok akan lebih baik.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: