Sejarah dan Makna Hari Anak Yatim Korban Perang Sedunia

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Selasa, 06 Januari 2026 | 05:00 WIB
Banyak anak yang yatim akibat perang (Foto/UNRWA)
Banyak anak yang yatim akibat perang (Foto/UNRWA)

BeritaNasional.com - Perang bukan hanya meninggalkan reruntuhan bangunan dan catatan sejarah, tetapi juga menyisakan luka panjang bagi anak-anak yang kehilangan orang tua. Inilah yang melatarbelakangi diperingatinya Hari Anak Yatim Korban Perang Sedunia, sebuah momentum untuk mengingat bahwa di balik konflik, ada masa kecil yang terampas.

Perlindungan terhadap anak yatim sejatinya telah dikenal sejak ribuan tahun silam. Mengutip situs National Today, perhatian terhadap anak-anak yang kehilangan orang tua sudah muncul sekitar tahun 400 SM. 

Pada masa itu, Bangsa Romawi mendirikan panti asuhan pertama sebagai bentuk tanggung jawab sosial, bahkan memberikan pembinaan hingga pendidikan militer bagi anak-anak yatim sampai usia 18 tahun.

Seiring berjalannya waktu, kepedulian tersebut terus berkembang. Pada tahun 1741, berdirilah The Foundling Hospital, lembaga amal pertama yang secara khusus memberikan layanan bagi anak yatim dengan pendekatan rumah sakit. Kehadirannya menjadi tonggak penting dalam sejarah perlindungan anak-anak terlantar.

Namun, skala permasalahan anak yatim meningkat drastis saat Perang Dunia II pecah pada awal 1900-an. Konflik global ini menyebabkan jutaan anak di berbagai negara kehilangan orang tua. Diperkirakan sekitar 1 hingga 13 juta anak di seluruh dunia menjadi yatim piatu akibat perang tersebut.

Anak-anak korban perang tidak hanya kehilangan keluarga, tetapi juga harus menghadapi tekanan emosional dan mental yang berat. Banyak dari mereka hidup dalam kondisi serba kekurangan, rentan terserang penyakit, serta mengalami masalah gizi yang memprihatinkan.

Makna Hari Anak Yatim Korban Perang Sedunia

Hari Anak Yatim Korban Perang Sedunia hadir sebagai pengingat bagi dunia bahwa anak-anak adalah korban paling rentan dalam setiap konflik bersenjata. Peringatan ini menjadi ajakan untuk menumbuhkan empati, kepedulian, serta tanggung jawab bersama dalam melindungi hak-hak anak, terutama mereka yang kehilangan orang tua akibat perang.

Lebih dari sekadar peringatan, hari ini menjadi simbol harapan agar anak-anak korban konflik tetap mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan kesempatan meraih masa depan yang layak.

Cara Memperingati Hari Anak Yatim Korban Perang Sedunia

Ada berbagai cara sederhana namun bermakna yang bisa dilakukan masyarakat untuk memperingati Hari Anak Yatim Korban Perang Sedunia, di antaranya:

Mengunjungi panti asuhan untuk berbagi waktu, perhatian, dan kebahagiaan bersama anak-anak yatim korban perang

Mengikuti atau menghadiri kegiatan dan kampanye yang mengangkat isu World Day of War Orphans

Menyalurkan donasi melalui organisasi kemanusiaan atau panti asuhan yang fokus membantu anak-anak korban konflik

Melalui kepedulian kolektif, diharapkan anak-anak yang telah kehilangan segalanya akibat perang tetap merasakan bahwa mereka tidak sendirian dan masih memiliki masa depan yang bisa diperjuangkan.

(Rep/Nissa)


 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: