Indonesia Lobi Amerika Serikat Pertahankan Tarif 0 Persen

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 22 Februari 2026 | 06:00 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menandantangani Perjanjian Dagang Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Tariff (ART) RI-AS di Washington DC. (BeritaNasional/BPMI Setpres)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menandantangani Perjanjian Dagang Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Tariff (ART) RI-AS di Washington DC. (BeritaNasional/BPMI Setpres)

BeritaNasional.com - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tengah memperjuangkan posisi perdagangan Indonesia di tengah kebijakan tarif baru Amerika Serikat (AS). 

Indonesia secara resmi meminta agar fasilitas tarif resiprokal 0 persen yang telah dinikmati selama ini tetap dipertahankan meskipun pemerintah AS berencana memberlakukan tarif global sebesar 10 persen untuk seluruh negara.

Airlangga mengungkapkan, pemerintah telah melakukan intensifikasi koordinasi dengan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR). 

Dari hasil pertemuan tersebut, pihak AS mengindikasikan akan ada keputusan kabinet khusus bagi negara-negara yang sudah menandatangani perjanjian bilateral.

“Alhamdulillah kemarin Indonesia sudah menandatangani perjanjian, dan yang diminta oleh Indonesia adalah kalau yang lain semua berlaku 10 persen, tapi yang sudah diberikan 0 persen itu kita minta tetap,” ujar Airlangga di Washington DC pada Sabtu (21/2/2026) pagi waktu setempat.

Menurut Airlangga, sejumlah produk unggulan Indonesia di sektor pertanian relatif aman karena diatur dalam perintah eksekutif ( executive order ) tersendiri yang tidak termasuk dalam daftar pembatalan tarif. 

Komoditas tersebut meliputi kopi, kakao, serta beberapa produk pertanian lainnya.

Selain pertanian, pemerintah juga melobi agar tarif 0 persen tetap berlaku untuk sektor strategis lainnya, seperti rantai pasok (supply chain) elektronik, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan tekstil serta alas kaki.

Meski demikian, kepastian mengenai sektor non-pertanian ini masih harus menunggu proses verifikasi selama 60 hari ke depan sejak penandatanganan kesepakatan.

Menanggapi kekhawatiran bahwa Indonesia akan disamaratakan dengan negara lain yang terkena tarif rata-rata 10 persen, Airlangga menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak bersifat menyeluruh untuk semua produk.

“Kita ada yang 10 persen, tapi ada yang kita sedang bicarakan. Yang sudah diputus nol, supaya tetap nol,” kata Airlangga menekankan posisi tawar Indonesia.

Skema Impor Produk AS ke Indonesia

Terkait arus barang dari AS yang masuk ke tanah air, Airlangga menyebutkan bahwa skema tarif saat ini masih berjalan normal hingga implementasi penuh kesepakatan tarif timbal balik (agreement on reciprocal tarif).

Ia mencontohkan beberapa komoditas AS yang sudah menikmati tarif rendah di pasar Indonesia, seperti gandum yang dikenakan tarif 0 persen serta kedelai dan produk lainnya yang berada di kisaran 5 persen.

"Kan kemarin ada yang sudah nol, kayak gandum itu sudah nol. Lalu ada kedelai dan yang lain, ada yang 5 persen. Kalau masih tetap seperti itu, sampai dengan implementasi daripada kesepakatan tarif timbal balik," tandasnya.

 sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: