Negara-negara Uni Eropa Kompak Lepas Cadangan Minyak Darurat
BeritaNasional.com - Ketegangan yang kian memanas di Timur Tengah mulai mengguncang pasar energi global. Menanggapi situasi tersebut, sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman resmi mengumumkan rencana melepas cadangan minyak darurat guna menstabilkan harga yang melonjak tajam.
Keputusan tersebut diambil setelah Badan Energi Internasional (IEA) merekomendasikan penarikan cadangan dalam jumlah rekor.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengonfirmasi 32 negara anggota telah sepakat secara bulat untuk menggelontorkan 400 juta barel minyak ke pasar global.
Imbas Penutupan Selat Hormuz
Langkah darurat ini dipicu oleh gangguan serius di jalur pelayaran global, terutama penutupan Selat Hormuz akibat konflik bersenjata antara Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran.
IEA mencatat ekspor minyak melalui jalur vital tersebut kini anjlok drastis hingga di bawah 10 persen dari tingkat normal.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen membeberkan dampak nyata konflik ini terhadap konsumen.
"Sejak awal konflik, harga gas telah melonjak hingga 50 persen dan harga minyak naik 27 persen," ungkapnya pada Rabu (12/3/2026).
Rincian Kontribusi Negara-Negara Eropa
Sebagai bentuk solidaritas untuk melindungi ekonomi global dari volatilitas harga, beberapa negara besar telah memerinci jumlah cadangan minyak yang akan dikeluarkan.
Jerman melepas 19,51 juta barel dari cadangan strategisnya. Lalu. Prancis mengonfirmasi penggelontoran 14,5 juta barel minyak. Inggris menyumbangkan 13,5 juta barel untuk melindungi konsumen domestik. Belanda mengeluarkan 5,36 juta barel, atau sekitar 20 persen dari total stok nasional mereka.
Portugal akan melepas 10 persen cadangannya, sedangkan Austria menyumbangkan 325.000 ton minyak mentah.
Selain negara-negara di atas, Latvia, Estonia, dan Lithuania juga telah menyatakan kesiapan mereka untuk melakukan langkah serupa.
Tekanan pada Harga Minyak Dunia
Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh angka 119 dolar AS per barel pada awal pekan ini, level tertinggi sejak pertengahan 2022, sebelum akhirnya sedikit melandai ke angka 87,57 dolar AS per barel setelah pengumuman intervensi pasar ini.
Saat ini, IEA mencatat bahwa negara-negara anggotanya masih memiliki benteng pertahanan energi yang cukup kuat dengan koleksi cadangan darurat lebih dari 1,2 miliar barel, ditambah 600 juta barel stok industri.
Upaya kolektif ini diharapkan dapat menjadi napas tambahan bagi pasar energi dunia hingga situasi di Timur Tengah kembali kondusif.
Sumber: Xinhua News
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu







