AS Gempur Situs Rudal Iran dengan Bom di Dekat Selat Hormuz
BeritaNasional.com - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi pasukan militer AS telah meluncurkan serangan udara presisi terhadap sejumlah situs rudal milik Iran di sepanjang garis pantai dekat Selat Hormuz pada Selasa (17/3/2026).
Dalam pernyataan resminya melalui media sosial X, CENTCOM mengungkapkan serangan tersebut menggunakan amunisi khusus 5.000 pon yang dirancang untuk menembus bunker atau bangunan yang diperkuat (deep penetration munitions).
"Langkah ini diambil karena rudal jelajah anti-kapal Iran di lokasi-lokasi tersebut menimbulkan risiko nyata bagi keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz," tulis pernyataan resmi tersebut.
Di Washington, Presiden Donald Trump menegaskan Amerika Serikat (AS) belum berencana mengakhiri operasi militer terhadap Iran yang kini telah memasuki minggu ketiga.
Meski demikian, Trump tidak menutupi kekecewaannya setelah sejumlah sekutu utama dan anggota NATO menolak permintaannya untuk membentuk misi pengawalan bersama di Selat Hormuz.
"Saya kecewa dengan keputusan NATO. Jepang, Australia, dan Korea Selatan juga menolak tawaran tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan siapa pun dalam urusan ini," ujar Trump.
Menanggapi agresi tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memberikan peringatan keras melalui unggahan di X.
Ia menyatakan situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali ke status sebelum perang.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat menyatakan selat tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional, kecuali bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutunya.
Dunia internasional kini diliputi kecemasan akan potensi penutupan total jalur perdagangan minyak paling vital di dunia tersebut.
Analis dari JP Morgan dalam laporan terbarunya memperingatkan dampak katastropik jika Selat Hormuz benar-benar tertutup:
Produsen minyak besar seperti Arab Saudi, Irak, Qatar, dan UEA hanya mampu mempertahankan produksi maksimal selama 25 hari.
Sejak serangan besar-besaran AS-Israel dimulai pada 28 Februari lalu, harga minyak dunia telah melonjak tajam dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
Hingga saat ini, situasi di jalur sempit yang menjadi urat nadi ekspor minyak mentah dunia tersebut tetap kritis dan berada dalam pengawasan ketat komunitas global.
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu







