Tanya Kapan Nikah dan Anak Berapa saat Lebaran, Ini Kata Ustaz
BeritaNasional.com - Pada Hari Raya Idul Fitri di Indonesia, silaturahmi antarkeluarga, kerabat dan juga sahabat adalah tradisi yang dilakukan dari generasi ke generasi. Namun, sering kali suasana Lebaran yang penuh kehangatan dan keceriaan berubah lantaran pertanyaan yang tidak perlu dan menyentuh hal-hal privat, seperti kapan nikah? atau anak sudah berapa? atau kapan punya momongan? Begini penjelasan dari Ustaz Mabda Dzikara dalam perspektif ajaran Islam.
Mabda Dzikara menilai bahwa tradisi silaturahmi yang berlangsung di Indonesia saat Lebaran itu merupakan tradisi yang baik. Mulai dari silaturahmi dan berkumpul bersama. Namun, ada batasan-batasan yang perlu dijaga sehingga tidak berlebihan.
"Tradisi silaturahminya perlu dijaga begitu ya. Tradisi kumpul-kumpulnya, makan-makannya perlu dijaga. Tapi yang kemudian menjadi batasan adalah makannya jangan berlebihan," kata Mabda yang dikutip dari podcast Bacotan Hari Ini, yang dikutip Minggu (22/3/2026).
Menurut Mabda yang juga Anggota Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini, sering kali saat berkumpul bersama keluarga atau orang terdekat, ada hal-hal toksik yang perlu dihindari. Seperti gibah yakni membicarakan anggota keluarga atau orang lain, juga terlontar pertanyaan yang sifatnya privat yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan pada kerabat atau orang lain.
"Berkumpulnya baik Kumpul-kumpulnya silaturahminya bagus tapi ngomongin gibahnya enggak enak. Tiba-tiba pas ketemu sama orang, "eh sudah nikah belum?" Ya enggak? (lalu bertanya) "anak sudah berapa" gitu kan?. Kadang-kadang begitu kan. (tanya) "Eh kerjaan gimana gitu," ujar Mabda.
"Silaturahminya bagus, tapi kemudian hal-hal yang toksiknya dari tradisi itu harus dihindari," pesannya.
Selain itu, kata Mabda, jangan berlebihan saat makan atau membeli barang untuk pamer. Boleh saja untuk makan dan membeli barang, hanya saja ada batasan-batasan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
"Maka yang harus dilakukan adalah tradisi makan-makannya, silaturahminya, kumpulnya, beli apanya segala macam masih diperbolehkan hal-hal yang bagus. Hanya saja lagi-lagi perlu ada batasan. Batasan yang apa? Semampunya sepatutnya. Semampunya sepatutnya," tuturnya.
Mabda melihat, seing kali karena gengsi antarkeluarga dan kerabat, membeli sesuatu yang berlebihan dan di luar batas kemampuannya hanya karena ingin dipandang atau pamer.
"Jangan kemudian gara-gara gengsi, "waduh gua pulang nih ya ke Padang atau kemana. Asik ya ada kakak, kakak udah punya mobil nih. Gua enggak asik nih kalau enggak bawa mobil ya kan". Lalu mau punya iPhone 17 supaya kelihatan pas lagi foto-foto sama keluarga ada iPhone 17-nya. Hal seperti itu adalah suatu hal yang kiranya berlebihan," terangnya.
Lantaran memaksakan diri membeli di luar kemampuannya saat Lebaran, kata dia, akhirnya meninggalkan banyak utang lalu menimbulkan masalah ekonomi.
"Nah, itu berarti tidak mampu. Dia harus tidak mampu tapi dipaksakan untuk mampu gitu. Gara-gara itu akhirnya dia punya banyak hutang dan lain sebagainya akhirnya menjadikan dia punya masalah masalah ekonomi," tandasnya. 
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu







