Trump Ancam Iran, AS Siap Serang Pembangkit Listrik jika Selat Hormuz Tak Dibuk
BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz. Dalam unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (21/3/2026) malam waktu setempat, Trump memperingatkan bahwa Washington akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut dalam 48 jam.
Ancaman ini muncul di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang telah memasuki pekan keempat. Dalam unggahannya, Trump menegaskan Amerika Serikat akan menargetkan berbagai pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar, apabila Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya tanpa ancaman.
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di kawasan itu telah membuat lalu lintas maritim sangat terganggu dan mendorong lonjakan harga energi internasional.
Ketegangan di kawasan semakin memburuk setelah serangan Iran terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz membuat jalur tersebut praktis tertutup bagi sebagian besar lalu lintas komersial. Penutupan ini berdampak langsung pada distribusi energi global dan memicu lonjakan harga minyak di tengah kekhawatiran gangguan pasokan berkepanjangan.
Di tengah tekanan harga energi, pemerintahan Trump sebelumnya mengumumkan pelonggaran sejumlah sanksi untuk memungkinkan penjualan minyak Iran yang sudah berada di laut selama 30 hari. Kebijakan tersebut disebut sebagai langkah terbaru Washington untuk meredam lonjakan harga minyak dan bensin domestik yang terus meningkat sejak konflik dengan Iran memanas. Laporan media AS menyebut Departemen Keuangan memberikan lisensi sementara untuk penjualan minyak mentah Iran yang telah dimuat di kapal tanker.
Trump juga kembali menekan sekutu-sekutu Amerika Serikat agar ikut membantu membuka kembali Selat Hormuz. Pada Jumat (20/3/2026), ia menyatakan negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga anggota NATO seharusnya ikut terlibat karena lebih bergantung pada jalur tersebut dibandingkan Amerika Serikat. Menurut Trump, AS tidak terlalu membutuhkan Selat Hormuz, sementara banyak negara lain sangat bergantung pada arus energi yang melewati kawasan itu.
Ancaman terbaru Trump muncul saat perang di Timur Tengah terus meluas. Pada Sabtu, Iran dilaporkan menargetkan pangkalan gabungan Inggris-AS di Samudra Hindia, sementara serangan terhadap fasilitas strategis Iran juga kembali terjadi. Situasi ini memperbesar risiko eskalasi konflik regional dan meningkatkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi stabilitas energi dunia.
Sumber: NBC News
PERISTIWA | 19 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu




