De Zerbi Datang di Saat Genting, Bisakah Selamatkan Tottenham?
BeritaNasional.com - Keputusan Tottenham Hotspur menunjuk Roberto De Zerbi sebagai pelatih anyar menjadi titik balik penting di tengah krisis yang sedang melanda klub London Utara tersebut.
Di satu sisi, Spurs tengah berjuang menjauh dari zona degradasi. Di sisi lain, manajemen justru mengambil langkah berani dengan memberikan kontrak jangka panjang kepada pelatih asal Italia itu.
Terlebih, musim 2025-2026 menjadi periode yang mengkhawatirkan bagi Tottenham. Meski sempat menjuarai UEFA Europa League musim lalu, performa mereka di liga domestik justru anjlok drastis.
Saat ini, Spurs hanya berjarak satu poin dari zona degradasi Premier League, dengan tujuh laga tersisa. Lebih parah lagi, mereka belum meraih kemenangan liga sejak Desember.
Situasi ini memaksa klub memecat Igor Tudor setelah gagal mempersembahkan satu pun kemenangan liga.
De Zerbi: Proyek Jangka Panjang di Tengah Krisis
Menariknya, Tottenham tetap memberikan kontrak lima tahun kepada De Zerbi tanpa klausul degradasi. Ini menandakan komitmen kuat klub untuk membangun proyek jangka panjang, bukan sekadar solusi darurat.
Pelatih 46 tahun itu dikenal dengan filosofi permainan menyerang berbasis penguasaan bola. Namanya mencuat saat menangani Brighton & Hove Albion dan membawa klub tersebut finis di posisi enam, sekaligus lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Ia juga sempat melatih Olympique de Marseille dan sukses finis di posisi kedua Ligue 1 sebelum hengkang pada Februari 2026.
Filosofi Taktik: Berani dan Berisiko
De Zerbi dikenal sebagai salah satu pelatih dengan pendekatan taktik paling progresif di Eropa. Bahkan, Pep Guardiola pernah memuji pengaruhnya dalam perkembangan taktik modern.
Gaya bermainnya menekankan:
- Penguasaan bola dari lini belakang
- Mengundang tekanan lawan untuk membuka ruang
- Transisi cepat setelah memecah pressing
Namun, pendekatan ini juga memiliki risiko besar, terutama dalam fase bertahan. Timnya kerap rentan terhadap serangan balik akibat terlalu agresif saat menyerang.
Secara komposisi, skuad Tottenham dinilai cukup ideal untuk mengadopsi sistem De Zerbi.
Di lini tengah, James Maddison berpotensi menjadi motor kreativitas, sementara Yves Bissouma sudah memahami sistem De Zerbi sejak di Brighton.
Di lini serang, pemain seperti Dejan Kulusevski dan Richarlison cocok dengan pendekatan vertikal dan pressing tinggi.
Sementara itu, lini belakang memiliki Cristian Romero yang nyaman membangun serangan dari bawah.
Tantangan terbesar De Zerbi adalah waktu. Dengan kondisi tim yang rapuh dan tekanan degradasi, ia dituntut segera meraih hasil positif.
Namun, dalam jangka panjang, penunjukan ini bisa menjadi fondasi era baru Tottenham mengembalikan identitas permainan menyerang yang selama ini menjadi ciri khas klub.
Jika berhasil, De Zerbi bukan hanya menyelamatkan Spurs dari degradasi, tetapi juga membuka jalan menuju kebangkitan dengan filosofi sepak bola modern.
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 19 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 23 jam yang lalu
EKBIS | 18 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu





