Lebanon Memanas, Iran Buka Suara dan Peringatkan Amerika Serikat
BeritaNasional.com - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat agar tidak membiarkan Israel mengganggu gencatan senjata regional dengan melanjutkan serangan di Lebanon. Ia menilai langkah tersebut akan menjadi keputusan yang tidak bijak di tengah situasi yang semakin memanas.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi di tengah meningkatnya intensitas serangan Israel ke Lebanon, yang dilaporkan telah menewaskan ratusan orang sejak gencatan senjata diberlakukan. Ia juga menyinggung kelanjutan persidangan korupsi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, dan menduga adanya motif di balik eskalasi konflik.
“Gencatan senjata di seluruh wilayah, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya,” tulis Araghchi di media sosial dikutip dari Aljazeera, Jumat (10/4/2026).
Lebih lanjut, Araghchi menyampaikan pesan keras kepada Amerika Serikat yang sebelumnya menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata awal.
“Jika AS ingin menghancurkan ekonominya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, pada akhirnya itu akan menjadi pilihan mereka. Kami pikir itu akan bodoh tetapi kami siap menghadapinya,” tulis Araghchi.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahasa yang sebelumnya digunakan oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Vance memperingatkan Iran agar tidak membiarkan gencatan senjata runtuh akibat situasi di Lebanon.
“Kami pikir itu akan bodoh, tetapi itu pilihan mereka,” ujar Vance.
Sejak gencatan senjata diumumkan pada Selasa, perdebatan mengenai apakah kesepakatan tersebut mencakup Lebanon menjadi ancaman serius bagi keberlanjutannya. Sejumlah pejabat dan media Iran bahkan mengisyaratkan kemungkinan respons militer atau langkah strategis seperti pemblokiran Selat Hormuz jika serangan Israel terus berlanjut.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah meminta Israel untuk mengurangi intensitas operasinya di Lebanon.
“Saya sudah berbicara dengan Bibi [Netanyahu], dan dia akan melakukannya secara diam-diam. Saya rasa kita harus sedikit lebih tenang,” kata Trump kepada NBC News.
Namun di lapangan, situasi justru menunjukkan peningkatan eskalasi. Dalam salah satu hari paling berdarah di Lebanon, jumlah korban tewas akibat serangan Israel dilaporkan melampaui 300 orang.
Serangan terbaru pada Kamis termasuk serangan di kota Borj Qalaouiye di Lebanon selatan yang menewaskan empat petugas penyelamat. Selain itu, militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi untuk wilayah Jnah di Beirut, yang menjadi lokasi dua rumah sakit terbesar serta dihuni puluhan ribu warga dan pengungsi.
Amerika Serikat sebelumnya memiliki rekam jejak menyatakan bahwa Israel akan membatasi operasi militernya, namun diikuti dengan eskalasi lanjutan. Pada 2024, pemerintahan mantan Presiden Joe Biden sempat menyebut operasi Israel di Rafah, Gaza selatan, sebagai “terbatas”, meski pada akhirnya wilayah tersebut mengalami kehancuran besar.
Konflik di Lebanon sendiri meningkat menjadi perang terbuka sejak awal Maret, setelah kelompok Hizbullah meluncurkan roket sebagai respons terhadap serangan Israel serta pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada 28 Februari.
Sejak gencatan senjata terpisah pada November 2024, Israel terus melancarkan serangan hampir setiap hari di Lebanon, termasuk yang menyasar infrastruktur sipil. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran luas terhadap stabilitas kawasan dan masa depan gencatan senjata yang semakin tidak pasti.
Sumber: Al-jazeera
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







