Rakyat Lebanon Menikmati Wisata Pantai di Tengah Konflik Hizbullah dan Israel
BeritaNasional.com - Di tengah gempuran bom Israel di negara tersebut yang menyebabkan korban jiwa dan rusaknya beragam infrastruktur, warga Lebanon tampak santai untuk berwisata dan menikmati matahari, laut dan juga pasir di Pantai Tyre, Lebanon selatan pada MInggu (19/7/2026).
Melansir Viory pada Senin (20/7/2026), sebuah video merekam keluarga dan anak muda yang berbondong-bondong ke Pantai Tyre. Sejumlah keluarga terlihat duduk santai di bawah payung, sementara anak-anak muda bermain olahraga, serta berenang di laut.
Bagi rakyat Lebanon, konflik bersenjata yang terjadi di negaranya meurpakan hal yang biasa mereka hadapi. Dan suasana pantai tersebut sangat tenang dan mereka tetap bisa menikmatinya.
"Suasana di Tyre 'tenang' dan penduduk telah terbiasa dengan situasi keamanan. Jika terjadi serangan atau sesuatu, itu menjadi normal; semua orang pergi lalu kembali dan melanjutkan berenang," kata seorang pengunjung pantai, Rayan Fakih.
Kemudian, pengunjung lainnya, Bassem Al Jouni dari Beirut mengaku terkejut dengan banyaknya pengunjung di pantai, karena dia memperkirakan tempat itu hampir kosong. Nampaknya, orang-orang di negara itu sudah mulai beradaptasi dengan situasi konflik dengan menghibur diri di laut.
“Seseorang menghadapi perang dan agresi dengan bersikeras untuk terus mencoba hidup, meningkatkan semangat, dan menikmati hidup. Di sini, jika kita ingin mengungkapkannya dengan kata-kata, kita katakan: kita mencintai kehidupan di tengah dunia yang ingin membunuh dan melakukan kejahatan seperti Israel,” tambah Jouni.
Di sisi lain, Ghaleb Safi El Din, pemilik resor pantai, mengatakan jumlah pengunjung “baik dan sangat banyak”, mencatat bahwa sebagian besar pengunjung berasal dari selatan, serta paraekspatriat yang mulai kembali untuk menghabiskan liburan musim panas mereka.
Sebelumnya diberitakan, Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan kerangka kerja pada bulan Juni, yang mencakup penarikan pasukan Israel dan pengambilalihan kendali oleh tentara Lebanon. Namun, Hizbullah menolak perjanjian tersebut, dan menyebutnya memalukan, seraya memperingatkan bahwa upaya apa pun untuk melucuti senjata mereka dengan paksa dapat menyebabkan pecahnya konflik sipil. Akibatnya, serangan terus berlanjut antara Hizbullah dan IDF.
Sumber: Viory
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 20 jam yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
POLITIK | 23 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu







