Soroti Stok Beras 5,3 Juta Ton di Gudang Bulog, DPR Ingatkan Sejumlah Risiko

Oleh: Ahda Bayhaqi
Kamis, 14 Mei 2026 | 15:19 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat menyidak Gudang Bulog Magelang. (Foto/BPMI)
Presiden Prabowo Subianto saat menyidak Gudang Bulog Magelang. (Foto/BPMI)

BeritaNasional.com - Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo menilai penumpukan beras tanpa manajemen stok yang baik berisiko menimbulkan kerugian negara, kerusakan komoditas, sampai dugaan manipulasi stok data. 

Hal itu disampaikan dalam menyoroti stok beras di gudang Bulog yang mencapai 5,3 juta ton.

Menurut Firman, jika beras lama disimpan sampai lebih dari enam hingga sembilan bulan tanpa pengendalian suhu dan kelembapan yang baik, kualitasnya dapat menurun.

"Betul, itu risiko nyata kalau beras Bulog ditimbun terlalu lama tanpa manajemen stok yang baik," kata Firman kepada wartawan pada Kamis (14/5/2026).

Kelembapan tinggi, kata Firman, dapat memicu munculnya kutu beras dan jamur yang menyebabkan beras tidak layak konsumsi. Selain itu, beras mengalami penyusutan bobot akibat penguapan dan pecah butir selama penyimpanan.

Ia menilai, biaya penyimpanan yang besar seperti fumigasi, listrik gudang, dan tenaga kerja juga akan menambah beban keuangan Bulog. Karena itu, standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menetapkan stok buffer pangan idealnya diputar setiap enam hingga sembilan bulan.

Politikus Golkar ini menilai penahanan stok beras dalam jumlah besar justru dapat memicu kenaikan harga di pasar. 

Ketika stok beras tersimpan di gudang dan tidak segera dilepas ke pasar, pedagang membaca kondisi tersebut sebagai sinyal keterbatasan pasokan.

“Kalau stok ditahan terlalu lama, pasar menganggap suplai terbatas. Akibatnya, harga bisa naik," ucapnya.

Firman mengatakan, meningkatnya kebutuhan beras untuk program pemerintah dan pasar umum secara bersamaan juga berpotensi mempersempit pasokan di masyarakat. 

Kondisi itu diperparah jika beras yang dilepas ke pasar kualitasnya sudah menurun sehingga konsumen beralih ke beras premium dengan harga lebih tinggi.

Selain risiko pasar, Firman menegaskan Bulog juga menghadapi ancaman kerugian besar apabila stok mengalami kerusakan atau penyusutan. 

Kerugian muncul dari selisih harga jual dengan biaya penyimpanan hingga potensi pemusnahan beras yang rusak akibat jamur.

Firman juga mengungkap adanya indikasi ketidaksesuaian antara data fisik stok beras di gudang dengan data administrasi di sejumlah cabang Bulog.

Ia menduga kondisi tersebut terjadi akibat tekanan pencapaian target kepada pimpinan cabang.

Firman menduga ada praktik penerbitan purchase order (PO) kepada rekanan meski barang belum benar-benar masuk ke gudang Bulog. 

Akibatnya, secara administratif target terlihat tercapai, namun stok fisik di lapangan tidak sesuai data.

"Ini namanya manipulasi data yang sangat berbahaya," katanya.

Firman mengaku menemukan salah satu cabang Bulog yang diduga memanipulasi data stok hingga mencapai 4.500 sampai 5.000 ton.

Ia khawatir apabila praktik serupa terjadi di sejumlah cabang lain, maka angka stok nasional 5,3 juta ton menjadi tidak relevan.

Karena itu, ia meminta jajaran pusat Bulog dan Badan Pangan Nasional segera melakukan audit investigatif secara menyeluruh melalui Satuan Pengawasan Internal (SPI).

Menurutnya, pemeriksaan berkala harus memastikan data fisik dan administrasi stok benar-benar sama.

Firman juga menilai pola kerja yang menekan pimpinan cabang untuk mencapai target justru dapat memunculkan penyimpangan baru di lapangan.

"Ancaman-ancaman tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah menimbulkan kejahatan baru," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: