Resmi Dihukum AFC, Persib Didenda Rp3,5 Miliar dan Laga Kandang Tanpa Penonton

Oleh: Tarmizi Hamdi
Senin, 18 Mei 2026 | 06:30 WIB
Persib Bandung bertanding di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Foto/persib.co.id)
Persib Bandung bertanding di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Foto/persib.co.id)

BeritaNasional.com - Kabar mengejutkan datang dari panggung sepak bola Asia. PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) secara resmi mengumumkan klub kebanggaan Jawa Barat, Persib Bandung, dijatuhi sanksi berat oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). 

Hukuman ini merupakan buntut dari insiden yang terjadi usai laga kontra Ratchaburi FC pada 18 Februari 2026 dalam ajang AFC Champions League Two (ACL 2) 2025/2026.

Berdasarkan keputusan resmi dari AFC Disciplinary and Ethics Committee yang diterbitkan pada 13 Mei 2026, tim berjuluk Maung Bandung ini tidak hanya dijatuhi denda finansial yang sangat besar, tetapi juga sanksi pengosongan stadion untuk seluruh laga kandang mereka di kompetisi di bawah naungan AFC.

Menanggapi keputusan pahit tersebut, manajemen PT Persib Bandung Bermartabat langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam tindakan tidak bertanggung jawab dari segelintir oknum suporter.

"PT Persib Bandung Bermartabat menyampaikan kekecewaan dan keprihatinan mendalam atas sanksi dan denda yang dijatuhkan oleh AFC menyusul insiden yang terjadi setelah pertandingan antara Persib melawan Ratchaburi FC pada 18 Februari 2026 dalam ajang AFC Champions League Two 2025/2026. Berdasarkan keputusan AFC Disciplinary and Ethics Committee tertanggal 13 Mei 2026, Persib menerima sanksi berupa denda sebesar USD200.000 serta hukuman penutupan stadion untuk pertandingan kandang di kompetisi AFC," tulis pernyataan resmi manajemen klub.

Kerugian Finansial dan Pukulan Telak bagi Reputasi Klub

Denda sebesar USD 200.000 atau setara dengan kurang lebih Rp3,5 miliar tentu menjadi tamparan keras bagi manajemen keuangan klub. Angka fantastis ini belum termasuk potensi kerugian dari hilangnya pendapatan tiket penonton akibat sanksi laga kandang tertutup.

Pihak manajemen sangat menyayangkan kejadian ini karena dana sebesar itu seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal yang jauh lebih produktif, seperti peningkatan fasilitas latihan, pembinaan pemain muda jangka panjang, operasional klub, hingga belanja pemain berkualitas demi mendongkrak prestasi Persib di level Asia.

Lebih dari sekadar uang, kerugian terbesar yang harus ditanggung adalah rusaknya reputasi klub dan tercederainya perjuangan jutaan Bobotoh yang selama beberapa tahun terakhir sudah bersikap sangat dewasa, tertib, dan cerdas dalam memberikan dukungan.

Sayangnya, transformasi positif suporter yang sudah dibangun bertahun-tahun tersebut harus tercoreng seketika oleh aksi emosional segelintir oknum dalam hitungan menit.

Membawa Nama Negara, Menjaga Kehormatan Bersama

Sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa di ajang AFC Champions League Two musim ini, Persib memikul ekspektasi dan nama baik sepak bola nasional.

Manajemen menegaskan bahwa regulasi kompetisi internasional sangat ketat dan tidak menoleransi pelanggaran keamanan sekecil apa pun.

Oleh karena itu, manajemen mengajak seluruh elemen suporter untuk merefleksikan kembali arti dari mencintai sebuah klub. 

Mendukung Persib bukan hanya soal datang dan berteriak di stadion, melainkan juga tentang bagaimana bersama-sama menjaga kehormatan, nama baik, serta masa depan klub di kancah internasional. 

Cinta kepada klub harus dibuktikan lewat tindakan yang bertanggung jawab, karena dukungan sehebat apa pun akan kehilangan maknanya jika pada akhirnya justru merugikan dan menghambat langkah tim.

Langkah Evaluasi Internal

Menyikapi sanksi ini, manajemen Persib tidak ingin sekadar menyalahkan keadaan. Di sisi internal, klub berkomitmen penuh untuk melakukan evaluasi menyeluruh secara menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan pertandingan.

Aspek keamanan, kesiapan panitia pelaksana (panpel), manajemen risiko, hingga langkah-langkah preventif di stadion akan dirombak dan diperketat agar insiden memilukan seperti ini tidak pernah terulang lagi di masa depan. 

Persib percaya bahwa untuk menciptakan atmosfer sepak bola yang aman, nyaman, dan bermartabat, langkah pertama harus dimulai dari introspeksi dan perbaikan kualitas internal klub secara berkelanjutan.

Manajemen berharap momentum pahit ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar energi besar yang dimiliki oleh Bobotoh dapat disalurkan secara positif, guna membawa Persib bertransformasi menjadi klub yang semakin modern, profesional, dan disegani di level Asia.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: