Gelar "Pembela Iman" Raja Charles Dihapus, Ini Sebabnya
BeritaNasional.com - Gelar "Pembela Iman" pada Raja Charles telah resmi dihapus oleh Istana Buckingham, Inggris, dam mengganti gelar berusia 500 tahun itu dengan janji yang lebih samar untuk melindungi seluruh agama di "negara multireligius" Inggris. Hal ini disampaikan melalui laporan keuangan tahunan kerajaan Inggris pada Jumat (27/6/2026).
Melansir Russian Today (RT) pada Selasa (30/6/2026), Laporan Hibah Kerajaan untuk tahun 2025-2026 itu menetapkan bahwa “Yang Mulia adalah Gubernur Tertinggi Gereja Inggris dan melindungi ruang bagi Iman di dalam negara yang multieligius”. Terdapat perbedaan signifikan pada susunan kata-kata dari versi tahun lalu yang menggambarkan Charles sebagai “Kepala Gereja Inggris dan Pembela Iman”. Namun, gelar tersebut tetap ada di situs web keluarga kerajaan.
Sebagai informasi, frasa “Pembela Iman” berasal dari tahun 1521, ketika Paus Leo X memberikannya kepada Henry VIII setelah raja memposisikan dirinya sebagai penentang keras Reformasi Martin Luther.
Perubahan ini mengulang kembali perdebatan yang telah membayangi Charles selama tiga dekade. Sebagai Pangeran Wales yang ditunjuk pada tahun 1994, ia menyatakan bahwa ia lebih suka menjadi "pembela iman" daripada "pembela agama", yang menunjukkan bahwa ia ingin mewakili semua agama, bukan hanya Kristen.
Selama penobatannya pada 2023, Raja Charles tidak mengubah sumpah dalam hal ini, tetapi kata pengantar sumpah tersebut menyatakan bahwa Gereja Inggris akan berupaya untuk memupuk lingkungan di mana orang-orang dari semua agama dan kepercayaan dapat hidup bebas.
Sebelumnya, pesan-pesan keagamaan Raja Inggris itu membuatnya mendapat kecaman usai ia merekam ucapan selamat Ramadan untuk umat Muslim Inggris pada bulan Februari tetapi tidak menyampaikan pesan Paskah pribadi, yang memicu tuduhan dari komentator Kristen bahwa ia mengesampingkan gereja yang secara resmi dipimpinnya.
Setelah mendapat kecaman, akun media sosial keluarga kerajaan akhirnya mengunggah pesan singkat "Selamat Paskah", meskipun Charles tidak pernah menyampaikan pidato pribadi.
Sebagai perbandingan, Ratu Elizabeth II tidak pernah merekam pesan Ramadan dan hanya mengeluarkan satu pesan Paskah khusus selama masa pemerintahannya yakni, pada saat lockdown COVID-19 tahun 2020. Ia juga secara tradisional merekam pesan Natal yang menyebutkan agama lain selain Kristen.
Amandemen terbaru ini muncul setelah jajak pendapat Ipsos pekan lalu, yang menunjukkan dukungan terhadap monarki berada di angka 55 persen, angka terendah dalam beberapa dekade, dan turun dari puncaknya sebesar 80 persen pada tahun 2012.
Sumber: Russian Today
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu





