Ahli Dermatologi: Industri Kosmetik Halal Punya Potensi Ekonomi Besar

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Rabu, 19 Februari 2025 | 03:30 WIB
Ilustrasi kosmetik halal (Foto/Pixabay)
Ilustrasi kosmetik halal (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Pakar sekaligus Guru Besar Dermatologi Kosmetik dan Estetik dari Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat (Sumbar), Prof Satya Wydya Yenny melihat terdapat potensi besar pengembangan industri kosmetik halal di Indonesia.

"Dengan bekal keilmuan di bidang dermatologi kosmetik dan estetik, serta literasi transformasi hukum Islam halal kosmetik, saya melihat adanya potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani," kata Prof Satya Wydya Yenny dikutip dari Antara.

Dalam industri kosmetik global, ujar dia, regulasi halal dan haram sangat penting terutama di negara dengan mayoritas populasi Muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Timur Tengah.

Regulasi ini memberikan panduan atau standar bagi produsen untuk memastikan produk itu memenuhi prinsip-prinsip kehalalan dan keamanan sesuai syariat Islam.

Prof Satya mengatakan, industri kosmetik merupakan salah satu sektor industri halal yang saat ini sedang diprioritaskan pemerintah. Hal tersebut dibuktikan dengan ditempatkannya industri kosmetik sebagai sektor andalan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.

Sebagai dermatolog yang sudah menekuni profesi itu selama 20 tahun terakhir, Prof Satya berkeinginan mengembangkan industri kosmetik halal di Indonesia.

Dengan memanfaatkan kekayaan alam lokal dan menggabungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai agama, ia optimistis mampu menciptakan produk kosmetik yang aman, efektif, dan bermanfaat bagi ekonomi masyarakat.

Ia juga telah melakukan sejumlah penelitian antara lain katekin gambir untuk pertumbuhan rambut, pencegahan keloid dan bahan depigmentasi. Penggunaan kuersetin dari bawang merah untuk melasma, flavonoid dari bunga telang, kurkumin temulawak untuk depigmentasi, dan minyak atsiri daun jeruk untuk jerawat, serta bahan alam lainnya untuk obat dan kosmetik.

"Penggunaan bahan alam untuk kosmetik dan obat merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan kekayaan alam secara bijaksana dan berkelanjutan yang juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan," kata Prof Satya Wydya Yenny.


 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: