KAI Siap Terapkan Teknologi ATP, Ini Alasannya
BeritaNasional.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI siap menerapkan teknologi automatic train protection (ATP) ke jaringan kereta api konvensional. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan dalam perjalanan.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan, memang hingga kini, masinis masih jadi lapisan perlindungan terakhir dalam perjalanan kereta. Hal ini dilakukan lewat pengamatan terhadap sinyal di lintas.
Sementara itu, kereta lintas raya terpadu (LRT ) telah menerapkan sistem grade of automation (GoA) 3 atau tingkat otomasi yang dikenal sebagai driverless, di mana komputer berperan melakukan proteksi terhadap potensi tabrakan antarkereta.
“Di kereta konvensional kami sedang melakukan perencanaan ini, yang kita sebut dengan automatic train protection,” ujarnya.
Selama ini ada dua pendekatan teknologi ATP yang tengah dipertimbangkan. Teknologi konvensional berbasis wayside dan onboard mengandalkan perangkat pada sarana serta prasarana, dengan sensor dipasang di kereta dan perangkat penerima ditempatkan di jalur rel.
“Ini tentunya mahal, berat dan tentunya ini lama dalam implementasinya,” kata Bobby.
Di sisi lain, KAI juga mempertimbangkan teknologi yang lebih baru berbasis satelit dan wireless melalui teknologi future railway mobile communication system (FRMCS).
Pada kesempatan yang sama, Bobby juga menegaskan bahwa KAI memiliki fokus terhadap upaya peningkatan keselamatan dan keamanan di perlintasan sebidang.
Ia menyebut keselamatan menjadi salah satu dari tiga pilar utama perusahaan selain menjaga kinerja operasional dan memperkuat layanan kepada pelanggan.
Bobby menjelaskan tanggung jawab pengelolaan perlintasan sebidang pada dasarnya berada di pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sesuai status jalan yang melintasinya, baik jalan nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota.
Dari total 3.674 perlintasan sebidang (JPL) yang terdata, sebanyak 1.810 di antaranya tidak dijaga. Dari jumlah tersebut, 172 perlintasan memiliki lebar jalan kurang dari dua meter, sedangkan 1.638 lainnya memiliki lebar jalan lebih dari dua meter.
Guna meningkatkan keselamatan, Bobby mengatakan bahwa KAI telah menutup 172 perlintasan tersebut. Adapun terhadap 1.638 perlintasan lainnya, perusahaan berencana memasang portal atau perangkat pengaman guna mengurangi risiko kecelakaan.
Untuk ruas jalan dengan tingkat lalu lintas yang tinggi, Bobby menyatakan pihaknya mengusulkan pembangunan jalur tidak sebidang kepada pemerintah. Ia memperkirakan, terdapat sekitar 40 lokasi yang dinilai perlu dibangun fasilitas flyover guna memisahkan jalur kereta dan kendaraan.
Berdasarkan perhitungan perusahaan, Bobby juga menyebutkan bahwa kebutuhan belanja modal (capex) untuk penanganan 1.638 perlintasan tersebut mencapai sekitar Rp1,2 triliun.
Selain itu, terdapat kebutuhan biaya operasional (opex) yang diperkirakan mencapai sekitar Rp700 miliar per tahun karena memerlukan lebih dari 8.000 petugas penjaga yang bekerja dalam tiga shift.
Sumber: Antara
GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 22 jam yang lalu
POLITIK | 22 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







