Minimnya Peringatan Dini, Longsor Cilacap dan Banjarnegara Catat Korban Terbanyak dalam 10 Tahun Terakhir

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 18 November 2025 | 06:56 WIB
Minimnya peringatan dini, longsor Cilacap dan Banjarnegara catat korban terbanyak dalam 10 tahun terakhir. (Foto/BNPB)
Minimnya peringatan dini, longsor Cilacap dan Banjarnegara catat korban terbanyak dalam 10 tahun terakhir. (Foto/BNPB)

BeritaNasional.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti minimnya sistem peringatan dini longsor berbasis teknologi di sebagian besar daerah rawan, sehingga respons masyarakat pun masih sangat bergantung pada identifikasi manual dan korban jiwa yang terdampak pun jadi lebih besar. Bahkan, BNPB mengungkap bahwa korban longsor di Cilacap dan Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng) mencatatkan jumlah korban terbanyak dalam sepuluh tahun terakhir.

"Longsor di Cilacap terjadi saat hujan tinggi, tapi tidak ekstrem. Artinya indikatornya tidak bisa hanya curah hujan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam "Disaster Briefing" secara online di kanal resmi BNPB di Jakarta, Senin (17/11/2025) malam.

Muhari menjelaskan, bencana tanah longsor hingga sepanjang satu kilometer dari pusat runtuhan yang melanda Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025) menjadi contoh keberadaan sistem peringatan dini longsor berbasis teknologi sudah sangat dibutuhkan. BNPB mengonfirmasi hingga Senin (17/11/2025) malam, dari 23 warga yang dilaporkan hilang, 16 orang korban ditemukan meninggal dunia dan tujuh orang masih dalam pencarian.

Ia pun lantas menerangkan bahwa wilayah perbukitan rawan longsor dan sangat memerlukan sistem pemantauan retakan tanah. Sensor sederhana yang dapat memperingatkan potensi bahaya bagi warga lebih cepat. Para ahli teknologi bencana BNPB pun menilai bahwa kabupaten rawan di Jawa Tengah seperti Banjarnegara, Cilacap, dan Wonosobo sudah lama membutuhkan penguatan sistem tersebut.

Namun, kata dia, keterbatasan anggaran dan kondisi geografis membuat sebagian besar daerah belum memasang teknologi pemantauan tersebut dan hanya mengandalkan prakiraan curah hujan harian dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Pengembangan peringatan dini multi-bahaya akan menjadi fokus koordinasi lintas kementerian," terangnya.

Kemudian, Muhari mengungkap bahwa bencana longsor di Cilacap dan Banjarnegara mencatatkan jumlah korban longsor terbanyak dalam 10 tahun terakhir di Jateng. Disampaikan pula bahwa catatan historis menunjukkan pola kejadian longsor di Jateng yang tidak pernah lepas dari wilayah tengah hingga selatan provinsi itu.

"Tingkat kerawanan longsor tidak berubah tanpa perbaikan lingkungan. Kalau historisnya pernah terjadi, kemungkinan akan terulang lagi seperti yang saat ini terjadi," ujar Muhari.

Berdasarkan data 2015–2024, kata dia, BNPB mencatat Banjarnegara menempati urutan pertama wilayah dengan korban meninggal dan mengungsi akibat tanah longsor. Pada periode tersebut ada sebanyak 13.351 orang warga mengungsi akibat tanah longsor dan 330 orang menunggal dunia.

Sementara Kabupaten Cilacap berada pada posisi kedua 9.547 orang warga mengungsi dan 276 orang warga meninggal dunia karena longsor. Selanjutnya disusul Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Purbalingga.

Ia menambahkan, bencana longsor kerap terjadi di wilayah perbukitan yang memiliki struktur tanah gembur dan porositas tinggi sehingga ketika hujan turun dalam durasi lama, air mengisi rekahan dan memicu bidang luncuran tanah. Kondisi tersebut dinilai sebagai pemicu bencana tanah longsor hingga sepanjang satu kilometer dari pusat runtuhan yang melanda Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11/22025).

Dengan demikian, ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap tanda awal longsor seperti pohon yang miring atau rekahan tanah di lereng, dan keberadaan sistem peringatan dini longsor berbasis teknologi sudah sangat dibutuhkan, karena berfungsi sebagai alarm bagi masyarakat untuk segera mengungsi ketika hujan deras turun.

"Upaya pencegahan hanya dapat dilakukan melalui penguatan vegetasi, penataan ruang, dan kesadaran masyarakat terhadap kondisi geografis setempat," imbau Muhari.

sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: