Andalkan ETLE, Korlantas Tidak Ingin Terjadi Transaksional saat Tilang
BeritaNasional.com - Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Agus Suryonugroho mengungkap terjadi peningkatan penegakan tilang elektronik (ETLE) selama operasi Zebra 2025. Pada tujuh hari operasi Zebra, penindakan ETLE sebanyak 95.827 atau terjadi peningkatan 5965 atau 82.059 penindakan dibandingkan tahun sebelumnya, 2024.
Sementara, tilang biasa pada 2025 hanya 7.919 atau turun 88,35 atau 58.531 dibandingkan tahun sebelumnya.
Teguran simpatik juga terjadi peningkatan menjadi 444.578 atau naik 1.414% atau 415.228 dibandingkan 2024.
Peningkatan drastis terjadi pada penindakan ETLE. Agus mengakui saat ini Korlantas mengedepankan ETLE untuk penilangan pelanggar lalu lintas.
"Tahun lalu ETLE hanya 13.000. Sekarang kami baru 7 hari 95 ribu. ETLE kita kedepankan," ujar Agus saat rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Sementara itu Korlantas mulai mengurangi porsi tilang. Karena tidak ingin terjadi transaksional.
"Tilang kita porsinya kecil kami tidak mau ada transaksional di tilang," ucapnya.
Namun, Korlantas tidak ingin menghilangkan tilang biasa karena merupakan salah satu senjatanya. Dengan tilang biasa bisa melakukan penyitaan kendaraan.
"Tapi tilang itu penting itu senjata kami, kami bisa sita kendaraan. Tetapi porsi penegakan hukum di jalan ini kami perkecil," ungkapnya.
Korlantas melakukan pendekatan yang berbeda agar lebih simpatik kepada masyarakat. Karena biasanya, polisi lalu lintas ditakuti masyarakat karena melakukan tilang.
"Jadi kami bersahabat dengan pelanggar. Karena pelanggar sahabat kami juga. Ini yang sudah kami lakukan shg kami harus melakukan kegiatan ini dengan simpatik jadi kami tidak ditakuti lagi tapi semuanya saudara polantas," tukasnya.

TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu






