Libur Nataru, Jumlah Penumpang Kereta Api Diperkirakan 3,94 Juta

Oleh: Harits Tryan
Jumat, 19 Desember 2025 | 20:31 WIB
Penumpang kereta api yang ingin melakukan mudik Lebaran. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Penumpang kereta api yang ingin melakukan mudik Lebaran. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi meminta manajemen keselamatan di sektor perkeretaapian harus ditingkatkan dan dijalankan secara disiplin selama periode Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Hal ini mengingat survei Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub memprediksi sebanyak 3,29 persen atau sekitar 3,94 juta orang akan menggunakan kereta api jarak jauh pada periode tersebut.

Dudy menyatakan bahwa masa angkutan Nataru adalah periode paling krusial dalam penyelenggaraan transportasi nasional, khususnya di sektor perkeretaapian. Ia menyebut beban layanan pada masa ini tidak hanya tinggi, tetapi juga berlangsung lebih panjang.

“Dengan kondisi seperti ini, saya ingin menegaskan agar manajemen keselamatan perekeretaapian harus ditingkatkan dan dijalankan secara disiplin serta terukur,” ungkap Dudy dikutip, Jumat (19/12/2025).

Dia menjelaskan, manajemen keselamatan harus diterapkan melalui beberapa hal, termasuk penyiagaan personel yang profesional, pemantauan intensif prasarana jalan rel, serta kesiapan sarana penanganan gangguan.

Secara khusus, mitigasi pada daerah rawan banjir dan longsor serta penguatan pengamanan dan pengawasan perlintasan sebidang berisiko tinggi menjadi prioritas, terutama karena tantangan cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu prasarana.

“Keselamatan harus menjadi budaya, menjadi kebiasaan yang dibangun setiap hari di setiap lini kerja, tanpa pengecualian. Keselamatan harus dikelola secara preventif dan berbasis data lapangan,” tutur Dudy.

Ia menambahkan bahwa gangguan layanan kereta api dapat menimbulkan efek berantai terhadap sektor transportasi lain dan aktivitas ekonomi.

“Tanggung jawab yang diemban pada masa Nataru bukanlah tanggung jawab biasa, melainkan tanggung jawab publik dalam skala nasional. Oleh sebab itu, kesiapan operasional pada masa Nataru ini harus berada pada level tertinggi,” sebutnya.

Dudy juga menyinggung kembali peristiwa gangguan keamanan seperti kejadian kebakaran gerbong yang terjadi beberapa bulan lalu. Ia menekankan perlunya kewaspadaan terhadap faktor non teknis, termasuk aspek pengamanan dan ketertiban di lingkungan perkeretaapian.

“Keselamatan perkeretaapian bukan semata-mata tanggung jawab internal pihak PT. KAI, melainkan hasil dari koordinasi lintas sektor. Karena itu, sinergi dengan Kementerian Perhubungan, TNI, Polri, BMKG, BASARNAS, Pemerintah Daerah, serta seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat, terutama dalam pengambilan keputusan cepat di lapangan,” tegasnya.

Secara khusus, dia juga meminta PT KAI dan Ditjen Perkeretaapian Kemenhub untuk serius mengamankan dan menata jalur perlintasan sebidang, baik yang resmi maupun faktual.

“Saya ingatkan kembali bahwa keselamatan adalah prioritas utama yang tidak dapat ditawar. Patuhi setiap prosedur, tingkatkan kewaspadaan, dan bangun budaya saling mengingatkan di setiap lini kerja. Mari kita ciptakan angkutan Nataru yang andal, selamat, dan berkelas melalui kerja profesional dan tanggung jawab bersama,” tuturnya.

Di sisi lain, berdasarkan survei Kemenhub, total pergerakan masyarakat pada masa Nataru 2025/2026 diperkirakan mencapai 119,5 juta orang. Stasiun Pasar Senen diprediksi menjadi stasiun asal terpadat dengan 1,21 juta penumpang (19,35%), sementara Stasiun Yogyakarta menempati peringkat pertama sebagai stasiun tujuan terpadat dengan perkiraan 805 ribu penumpang (12,90%).sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: