Kardinal Suharyo Sentil Pejabat Publik, Dorong Pertaubatan Nasional

Oleh: Panji Septo R
Kamis, 25 Desember 2025 | 13:57 WIB
Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo pimpin misa Natal. (BeritaNasional/Oke Atmaja)
Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo pimpin misa Natal. (BeritaNasional/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com -  Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyoroti kualitas kepemimpinan publik serta tanggung jawab moral para pemangku jabatan. 

Penegasan muncul saat ia menguraikan perbedaan antara menduduki kursi jabatan dan mengemban amanah bagi kesejahteraan bersama.

“Jadi, misalnya, misalnya, siapa pun yang berada di dalam posisi katakanlah jabatan-jabatan suatu lembaga, kalau dia diberi kesempatan untuk menjabat, harapannya tidak menduduki jabatan,” ujar Kardinal Suharyo di Gereja Katedral Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).

Ia menilai banyak jabatan hanya dipandang sebagai ruang kenyamanan kekuasaan. Kondisi ini menurutnya sering terlihat dalam praktik sehari-hari.

“Jabatannya diduduki, kursinya diduduki, enak sekali duduk di kursi itu,” tuturnya.

Ia menjelaskan perbedaan besar antara penggunaan jabatan demi diri sendiri dan pemaknaan jabatan sebagai amanah. Konsep tersebut ia tekankan melalui contoh konkret.

“Tetapi mengemban amanah. Beda, ketika saya menduduki jabatan itu, waktu saya menggunakan jabatan itu kepentingan saya sendiri," kata dia.

Kardinal Suharyo menegaskan jabatan idealnya dijalankan demi banyak orang. Ia memandang pemaknaan tersebut sebagai fondasi kepemimpinan publik.

“Tetapi ketika saya memangku jabatan, beda, jabatan itu saya pangku untuk kebaikan bersama," lanjutnya.

Pun Ia mencermati dinamika pemberitaan hukum yang marak akhir-akhir ini. Ia menyebut deretan kasus korupsi menggambarkan absennya orientasi pelayanan publik.

“Nah, kalau sekarang kita membaca berita-berita, melihat televisi hari-hari ini, sudah sekian kali kita membaca berita bupati ini ditangkap KPK, gubernur itu, dan sebagainya," ucapnya.

Ia memandang situasi tersebut sebagai sinyal kegagalan moral para pejabat. Ia menilai perubahan sikap menjadi kebutuhan mendesak.

“Ini kan artinya jabatannya tidak untuk mewujudkan kebaikan bersama, dia harus bertobat," kata dia.

Pria karismatik ini juga menegaskan seruan refleksi nasional. Pernyataan itu muncul seiring memuncaknya berbagai persoalan sosial dan politik di tanah air.

“Maka beberapa waktu yang lalu, ketika sedang ramai-ramai akhir bulan Agustus, saya memberanikan diri untuk mengatakan bangsa ini membutuhkan pertobatan nasional," pungkasnya.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: