Kaleidoskop 2025: Upaya Trump Dorong Nicolas Maduro Mundur
BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan sejumlah opsi militer untuk menyerang kartel narkoba di Venezuela guna melemahkan kekuasaan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dikutip dari CNN.
CNN melaporkan, rencana serangan militer AS itu memiliki tujuan yang lebih luas yaitu untuk melemahkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, militer AS telah menyerang sebuah kapal pengangkut narkoba di Karibia selatan yang diklaim telah berlayar dari Venezuela.
Rubio mengatakan, Trump akan melancarkan perang terhadap organisasi-organisasi narko-teroris.
Serangan AS itu merupakan awal dari upaya AS yang lebih besar untuk membersihkan wilayah tersebut dari perdagangan narkoba dan upaya menggulingkan Maduro dari kekuasaan.
"Langkah yang lebih disukai adalah Maduro segera meninggalkan kekuasaannya dengan membaca tanda-tanda ini," kata salah satu sumber seraya menambahkan, "Saya pikir pesannya adalah 'Apakah Maduro menginginkannya dengan jalan yang mudah atau sulit?'"
Langkah selanjutnya, pada pertengahan September 2025, AS menutup jalur komunikasi dengan Venezuela.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan, jalur komunikasi antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela telah diputus oleh Washington di tengah agresi yang terus berlanjut.
"Hari ini, dapat saya umumkan bahwa komunikasi dengan Pemerintah AS telah diputus oleh mereka," kata Maduro dalam sebuah konferensi pers di Caracas, Ibu Kota Venezuela.
Maduro menekankan, bahwa Venezuela telah berhasil menjaga perdamaian meskipun ada provokasi dari AS.
Trump mengatakan, militer AS menyerang sebuah kapal yang terlibat dalam perdagangan narkoba di perairan internasional di lepas pantai Venezuela pada Selasa (14/10).
"Operasi tersebut menewaskan enam pria di dalam kapal itu," kata Trump di Truth Social.
Menurut Trump, intelijen AS mengonfirmasi kapal itu transit di sepanjang rute yang diketahui dan terkait dengan jaringan teroris narkotika terlarang.
Di sisi lain, Maduro berulang kali menuduh AS sengaja menggunakan ancaman kartel sebagai dalih untuk melakukan perubahan rezim, menjatuhkannya, dan memperluas kehadiran militernya di Amerika Latin.
Kemudian pada pertengahan November 2025, Kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford milik AS tiba di Laut Karibia, seperti diumumkan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).
Kedatangan kapal tersebut memicu spekulasi bahwa Washington menargetkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai bagian dari kampanye antinarkotika dan terorisme Presiden AS Donald Trump.
Dengan pengerahan Gerald R. Ford Carrier Strike Group, pasukan AS di Karibia kini berjumlah lebih dari 15.000 personel, menjadikannya konsentrasi militer terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
"Pasukan-pasukan ini akan memperkuat dan meningkatkan kemampuan yang sudah ada untuk menggagalkan perdagangan narkotika. Pasukan ini juga siap melemahkan dan membongkar Organisasi Kriminal Transnasional," ujar Juru Bicara Pentagon Sean Parnell dalam pernyataan Angkatan Laut AS.
Kapal induk pertama di kelasnya ini, yang mengangkut lebih dari 4.000 awak kapal dan puluhan pesawat tempur taktis, dapat meluncurkan dan mendaratkan pesawat bersayap tetap (fixed-wing) secara bersamaan baik siang maupun malam untuk mendukung operasi-operasi yang ditugaskan.
Selain Gerald R. Ford, gugus serang kapal induk tersebut meliputi sembilan skuadron yang tergabung dalam Carrier Air Wing Eight, kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke dari Destroyer Squadron Two yaitu USS Bainbridge dan USS Mahan, serta kapal komando pertahanan udara dan rudal terintegrasi USS Winston S. Churchill, papar pernyataan itu.
Dikutip dari Antara, Laksamana Alvin Holsey, komandan dari Komando Selatan AS (U.S. Southern Command/USSOUTHCOM) mengatakan, pengerahan pasukan ini menandakan langkah kritis dalam memperkuat tekad untuk melindungi keamanan Belahan Bumi Barat dan keselamatan tanah air Amerika.
Sejak 2 September, pasukan AS telah menenggelamkan 19 kapal yang diduga mengangkut narkotika di perairan internasional Karibia dan Pasifik Timur, menewaskan setidaknya 76 orang di atas kapal tersebut.
Maduro telah berulang kali mengecam tindakan Washington sebagai upaya untuk menggulingkan pemerintahannya dan memperluas pengaruh militer AS di Amerika Latin.
Sementara itu, utusan China pada Selasa (23/12) mendesak Amerika Serikat (AS) untuk segera menghentikan kampanye negatifnya terhadap Venezuela dengan dalih memberantas perdagangan narkoba.
"AS terus meningkatkan pengerahan militernya di perairan Karibia di lepas pantai Venezuela, meningkatkan sanksi, blokade, dan ancaman militer terhadap Venezuela, dan telah menenggelamkan kapal-kapal Venezuela, menembak mati para awak kapal serta menyita sejumlah kapal tanker minyak," kata Deputi Perwakilan Tetap China di PBB Sun Lei.
Ia mengatakan, Washington telah menetapkan Pemerintah Venezuela sebagai organisasi teroris asing, mengklaim bahwa tanah, minyak, dan aset Venezuela adalah milik AS dan bahkan mengancam serangan militer terhadap wilayah Venezuela.
"Tindakan AS secara serius melanggar kedaulatan, keamanan, serta hak serta kepentingan sah negara lain, secara serius melanggar Piagam PBB dan hukum internasional, serta mengancam perdamaian dan keamanan di Amerika Latin dan Karibia," ujar Sun.
Ia mengatakan semakin banyak negara di kawasan tersebut dan sekitarnya telah menyuarakan kekhawatiran mendalam dan kecaman keras terhadap tindakan AS terhadap Venezuela.
Maduro menegaskan, Amerika Serikat tidak akan mampu memaksakan dominasi kolonial terhadap negaranya, di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara terkait isu keamanan dan sumber daya alam.
"Tak mungkin para pengambil keputusan di AS menciptakan realitas semu dan memaksakan model dominasi kolonial dan perbudakan pada Venezuela untuk mencuri sumber daya alamnya,” kata Maduro dalam pertemuan dengan para wakil presiden pada Sabtu (27/12).
Ia mengatakan, Venezuela memiliki kapasitas yang cukup untuk menentukan arah pembangunannya sendiri tanpa intervensi asing.
Maduro juga menyebut dukungan AS terhadap tokoh-tokoh oposisi seperti Leopoldo Lopez, Juan Guaido, dan Maria Corina Machado tidak membuahkan hasil.
"Mereka takkan pernah merebut tanah air ini. Venezuela akan terus melangkah bersama rakyatnya dan meraih keberhasilan besar di masa depan," ujar Maduro.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







