Mengenal Natal Ortodoks 7 Januari: Sejarah Kalender Julian hingga Puasa 40 Hari

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 06 Januari 2026 | 21:15 WIB
Ilustrasi perayaan Natal. (Beritanasional/Oke Dwi Atmaja)
Ilustrasi perayaan Natal. (Beritanasional/Oke Dwi Atmaja)

BeritaNasional.com - Bagi sebagian besar masyarakat dunia, Natal identik dengan tanggal 25 Desember yang dirayakan meriah dengan hiasan lampu, pohon Natal, dan berbagai perayaan keluarga.

Namun di sejumlah negara dan komunitas tertentu, suasana Natal justru terasa khidmat pada 7 Januari. Inilah Hari Natal bagi umat Kristen Ortodoks, sebuah perayaan yang tidak hanya berbeda secara waktu, tetapi juga kaya akan nilai sejarah, spiritualitas, dan tradisi yang telah dijaga selama berabad-abad.

Natal Ortodoks dirayakan bukan dengan hingar-bingar, melainkan dalam suasana yang lebih sunyi, penuh perenungan, dan sarat makna iman.

Sejarah Panjang di Balik Natal Ortodoks

Perbedaan tanggal perayaan Natal Ortodoks tidak lepas dari sejarah panjang penanggalan gereja. Umat Kristen Ortodoks masih menggunakan kalender Julian, sistem penanggalan yang diperkenalkan pada masa Romawi Kuno oleh Julius Caesar dan menjadi acuan gereja-gereja Kristen awal.

Ketika dunia Barat kemudian mengadopsi kalender Gregorian pada abad ke-16 untuk menyesuaikan perhitungan astronomi, gereja-gereja Ortodoks memilih tetap setia pada kalender Julian sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan ajaran gereja mula-mula.

Selisih waktu antara kedua kalender inilah yang membuat tanggal 25 Desember dalam kalender Julian jatuh pada 7 Januari dalam kalender Gregorian yang digunakan secara global saat ini.

Hingga kini, tradisi tersebut masih dijalankan oleh komunitas Ortodoks di berbagai negara seperti Rusia, Serbia, Ethiopia, Georgia, Ukraina, serta sejumlah wilayah di Eropa Timur dan Afrika, menjadikannya bagian penting dari identitas keagamaan mereka.

Makna Natal bagi Umat Kristen Ortodoks

Bagi umat Kristen Ortodoks, Natal bukan sekadar perayaan kelahiran Yesus Kristus, melainkan peristiwa iman yang sangat sakral.

Natal dimaknai sebagai momen ketika Tuhan hadir ke dunia dalam kesederhanaan, lahir di palungan, dan memilih jalan kerendahan hati untuk menyelamatkan umat manusia.

Karena itu, Natal menjadi waktu untuk merenungi makna kasih, pengorbanan, dan kehadiran Ilahi dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana perayaannya cenderung tenang dan reflektif, mengajak umat untuk lebih banyak berdoa, bermeditasi, serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama.

Natal juga dipahami sebagai momentum pembaruan batin, di mana umat diajak untuk meninggalkan ego, menumbuhkan empati, dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

Cara Memperingati Natal Ortodoks

Rangkaian perayaan Natal Ortodoks diawali dengan masa puasa panjang selama 40 hari yang dikenal sebagai Nativity Fast.

Masa puasa ini bukan hanya soal menahan diri dari makanan tertentu, tetapi juga latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu, membersihkan hati, dan mempersiapkan diri secara rohani.

Puncak perayaan berlangsung pada malam Natal melalui ibadah khusus yang khidmat dan berlangsung hingga larut malam atau menjelang dini hari.

Liturgi Natal Ortodoks dikenal kaya akan simbol, nyanyian pujian, serta doa-doa panjang yang menghidupkan kembali kisah kelahiran Kristus.

Usai ibadah, umat Ortodoks biasanya berkumpul bersama keluarga dalam suasana sederhana namun penuh kehangatan. Tradisi makan bersama menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur setelah menjalani masa puasa panjang.

Di Rusia dan beberapa negara Eropa Timur, hidangan tradisional bernama kutia hampir selalu hadir di meja makan. Makanan berbahan dasar biji-bijian ini melambangkan kehidupan baru, harapan, dan kebangkitan, sekaligus menjadi pengingat akan siklus kehidupan dan berkat Tuhan yang terus mengalir.

Momen kebersamaan ini sering diisi dengan doa, percakapan hangat, dan refleksi, menjadikan Natal Ortodoks terasa sangat intim dan personal.

Dengan sejarah yang mengakar kuat, makna spiritual yang mendalam, serta tradisi yang dijaga lintas generasi, Natal Ortodoks bukan hanya sekadar perayaan tahunan, melainkan perjalanan iman yang terus hidup hingga hari ini.

Perayaan ini menjadi pengingat bahwa esensi Natal sejatinya tidak terletak pada kemewahan atau kemeriahan, melainkan pada ketulusan hati, kedalaman iman, dan makna kebersamaan yang dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.

(Rep/Nissa)sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: