5 Bulan yang Sering Terjadi Banjir di Jakarta Versi BPBD DKI
BeritaNasional.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat tren frekuensi tertinggi kejadian banjir atau genangan air di Jakarta paling banyak terjadi pada Januari, Februari, Mei, Juni, dan Desember. Hal ini berdasarkan data banjir dalam lima tahun terakhir, yakni 2020-2025.
"Kejadian banjir selama lima tahun terakhir ada sekitar 498 kejadian dengan perkembangan yang fluktuatif. Frekuensi tertinggi genangan atau banjir terjadi di bulan Januari (63 kali), Februari (63 kali), Mei (63 kali), Juni (63 kali), dan Desember (64 kali)," ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan dalam podcast bertema "Mitigasi dan Penanganan Banjir di DKI Jakarta" yang digelar Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Yohan melanjutkan, untuk bulan yang kejadjan banjirnya terendah, yakni, Agustus (35 kali), September (30 kali), serta Juli dan Oktober (43 kali).
Karena itu, BPBD DKI mengimbau jika warga Jakarta hendak menggelar acara baiknya di bulan tersebut untuk menghindari potensi banjir.
"Kalau ingin mengadakan acara, baiknya di bulan Juli, Agustus, September, dan Oktober karena potensi genangannya atau kejadian banjirnya cukup kecil," ujar Yohan.
Kemudian, Yohan menjelaskan, pada periode kali ini, musim hujan dan kemarau tidak dapat dibagi rata masing-masing enam bulan, melainkan tergantung kondisi cuaca. Tahun lalu misalnya, musim hujan bahkan hampir berlangsung selama sembilan bulan.
Khusus 2025, BPBD DKI mencatat terjadi 219 banjir di Jakarta. Berdasarkan wilayah, banjir paling sering terjadi di Jakarta Utara (73 kali), kemudian diikuti Jakarta Selatan (46 kali), Jakarta Barat (45 kali), Jakarta Timur (41 kali), Jakarta Pusat (tujuh kali), dan Kepulauan Seribu (tujuh kali).
"Di Jakarta Utara, cukup sering banjir karena salah satu faktor yang menambah adalah rob. Air hujan dari hulu ke hilir harus masuk ke teluk. Ketika terjadi rob, akhirnya tertahan, dan ini terjadinya bukan hanya di Jakarta Utara, tetapi juga di Jakarta Barat (akibat ketika air mau masuk ke Teluk Jakarta terjadi antrean yang mengakibatkan meluap sehingga terjadi genangan atau banjir di wilayah tersebut)," jelas Yohan.
Dan kejadian banjir pada Januari 2026, wilayah dengan frekuensi tertinggi, yaitu Jakarta Timur sebanyak delapan kejadian. Diikuti Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan yang masing-masing mengalami tujuh kejadian banjir. Jakarta Pusat sebanyak empat kejadian, dan Kepulauan Seribu menjadi wilayah dengan frekuensi terendah, yakni satu kejadian.
Sumber: Antara

TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu



