Kerja Sama TNI AU–PPIC Perkuat Regenerasi Pilot Militer

Oleh: Bachtiarudin Alam
Kamis, 12 Februari 2026 | 18:15 WIB
Mayor Pnb Rachmat YS Ariyo, pelatih dari sembilan alumni PPIC. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam)
Mayor Pnb Rachmat YS Ariyo, pelatih dari sembilan alumni PPIC. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam)

BeritaNasional.com - Kebutuhan Indonesia untuk memiliki prajurit dengan kemampuan penerbang terus digenjot. Salah satunya lewat kerja sama dengan Politeknik Penerbangan Indonesia Curug (PPIC) dalam mencetak pilot TNI Angkatan Udara (AU).

Saat ini telah ada sembilan alumni PPIC berpangkat Letda Pnb yang sedang digembleng di Skadron Pendidikan (Skadik) 104, bagian dari Wing Pendidikan Terbang yang bermarkas di Lanud Adisucipto, Yogyakarta.

Instruktur penerbang Skadik 104, Mayor Pnb Rachmat YS Ariyo selaku salah satu pelatih dari sembilan alumni PPIC, mengatakan pihaknya telah menyiapkan kurikulum untuk pendidikan sebagai penerbang prajurit TNI AU.

“(Penyesuaian) lebih ke kurikulum. Jadi karena ada perubahan, dia (alumni PPIC) lebih pendek ya (waktunya). Jadi kami menyesuaikan kurikulum, pelajaran apa saja sih yang dibutuhkan dan belum mereka dapatkan,” terang Rachmat saat ditemui awak media di Skadik 104, Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).

Meski kurikulumnya tidak terlalu berbeda, pendidikan bagi jebolan PPIC dilakukan lebih singkat untuk lulus menjadi penerbang pesawat angkut. Pendidikan mereka lebih singkat karena sebelum masuk menjadi perwira TNI AU, mereka telah memiliki pengalaman jam terbang.

“Iya, tiga bulan. Karena dia sudah punya jam terbang. Nanti kalau kelamaan kan bosan juga, yang namanya jenuh ya, kok dapatnya ini lagi ini lagi,” ungkapnya.

Secara teknis, pendidikan khusus bagi perwira PPIC hanya tinggal menyesuaikan karena mereka telah memiliki Private Pilot License (PPL) dan Commercial Pilot License (CPL).

Dengan tugas membawa pesawat bermuatan pasukan, logistik, kendaraan militer, maupun bantuan kemanusiaan, mereka hanya perlu menyamakan standardisasi dengan sistem kerja penggunaan alutsista pesawat milik TNI AU.

“Untuk cara kerjanya sama. Di darat kita menggunakan rudder, di udara menggunakan stick. Namun, setiap pesawat punya karakteristik masing-masing, tombolnya berbeda-beda. Jadi kenapa sih mereka harus standardisasi? Karena pesawat yang digunakan itu berbeda,” terangnya.

Kendati demikian, para perwira alumni PPIC disiapkan bukan untuk menjadi penerbang pesawat tempur maupun helikopter. Pertimbangan itu diambil karena faktor fisiologis yang sudah berbeda apabila dicetak sebagai penerbang di luar pesawat angkut.

“Jadi G (gaya gravitasi)-nya, otak saya kan biasanya straight and level ya, bawa presiden, bawa menteri, pejabat-pejabat tinggi. Terus saya harus terbang lagi aerobatik, di mana saya harus menahan daya tahan G, terus saya harus mengikuti arah pesawat untuk loop, roll, gitu masih muntah,” terangnya.

Meski rekrutmen sempat dibuka secara umum, Rachmat menegaskan seleksi tetap dilakukan secara ketat. Alumni PPIC yang bergabung harus memiliki sikap dan naluri disiplin selayaknya tentara.

“Jadi kami punya intuisi, ya, si anak ini atau siswa ini apakah bisa menjadi seorang penerbang. Karena kami dituntut harus disiplin terkait prosedur dan kami bisa didirect lah, diperintah. Nah, kalau kami nggak bisa, itu kelihatan,” tuturnya.

Sebab, ada perbedaan antara penerbang sipil dan militer. Lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) sejak awal telah dilatih mentalnya sebagai prajurit untuk menjalankan misi tugas dari satuan, termasuk dalam kondisi perang.

“Karena kami dilatih untuk berperang sebenarnya kan. Di saat kondisi apa pun, ya, kami harus siap. Harapannya, kalau tempur dia eject (aman). Kalau kami kan sebagai seorang pilot, gimana caranya kami ditching atau forced landing, kami adalah orang yang paling terakhir keluar dari pesawat,” tegasnya.

Adapun para perwira hasil jebolan PPIC saat ini masih menjalani pendidikan selama tiga bulan sejak dilantik langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto pada 29 Januari 2026 untuk nantinya menjadi bagian dari penerbang TNI AU.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: