Bela TNI dari Tudingan Pelanggaran HAM, Prabowo: Kita Harus Tahan Banting

Oleh: Ahda Bayhaqi
Jumat, 13 Februari 2026 | 13:50 WIB
Presiden Prabowo Subianto (dua dari kanan) saat peresmian SPPG Polri. (Foto/YouTube Setpres)
Presiden Prabowo Subianto (dua dari kanan) saat peresmian SPPG Polri. (Foto/YouTube Setpres)

BeritaNasional.com - Presiden Prabowo Subianto memberikan pembelaan terhadap institusi TNI yang kerap menjadi sasaran kritik, termasuk tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Hal ini disampaikan Presiden saat meresmikan 1.179 SPPG dan 18 gudang ketahanan pangan Polri di Polsek Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2/2026).

Prabowo menilai tuduhan-tuduhan yang selama ini dialamatkan kepada aparat keamanan Indonesia seringkali tidak berdasar jika dibandingkan dengan tindakan negara lain yang justru vokal menyuarakan HAM.

Dalam pidatonya, Prabowo mengenang masa-masa sulit saat banyak pimpinan TNI dituding melakukan kejahatan perang. Ia membandingkan rekam jejak TNI dengan apa yang terjadi di dunia internasional saat ini.

"TNI juga dulu jadi sasaran ya kan. Jenderal-jenderal kita yang paling hebat paling jago ya kan, dimaki-maki dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM," ujar Prabowo.

Ia kemudian menyindir negara-negara Barat yang dianggapnya hanya bisa berteori tanpa memberikan contoh yang baik.

"Rasanya TNI enggak pernah ngebom rumah sakit selama sejarahnya TNI. Rasanya TNI enggak pernah bom panti asuhan. Rasanya TNI enggak pernah bom sekolah, enggak pernah bom gereja atau masjid. Negara-negara Barat yang ngajarin HAM kepada kita, ya kan, saya enggak mau banyak komentar lagilah. Ya kan, Anda tahu maksud saya ya," tuturnya.

Menurut dia, ada istilah dalam bahasa Jawa yang tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut, yakni Njar-Koni.

"Jadi, banyak kalau istilah dulu Njar-Koni, 'iso ngajar ora iso nglakoni' (bisa mengajar tapi tidak bisa melakukan). Mereka ngajarin kita semua ya kan. Dulu TNI yang selalu diserang bulan-bulanan, ya Polisi ya tabahlah kau juga jadi sasaran bulan-bulanan, enggak apa-apa," tambah Presiden.

Menghadapi serangan kritik dan dinamika di media sosial, Prabowo meminta jajaran pimpinan TNI dan Polri untuk tetap tegar dan membuktikan kinerja kepada rakyat.

"Iya kan, itu risiko benar enggak? Yang penting niat baik, pengorbanan untuk bangsa dan negara," tegasnya.

Prabowo juga menginstruksikan agar tindakan tegas dilakukan secara individu jika ada oknum yang bersalah, namun jangan menghakimi institusinya.

"Kalau ada dalam institusi ratusan ribu orang, kalau ada yang enggak benar ya tindak. Saya ibaratkan kalau ada sekolah, murid-muridnya ada yang brengsek, ada yang tawur-tawuran, ada yang kurang ajar, ada yang ini; muridnya, bukan kepala sekolahnya yang dicopot. Keliru itu, terbalik. Bukan sekolahnya ditutup," jelasnya.

Presiden berpesan agar para perwira tidak gentar menghadapi serangan opini, terutama dari akun-akun anonim.

"Tetapi enggak apa-apa, ini adalah risiko seorang pemimpin. Ya kau itu dikasih bintang di sini itu untuk tahan, tahan banting, tahan maki-maki, tahan serangan, ya kan. Apalagi serangannya di sosmed ya kan. Di sosmed itu banyak apa itu, banyak buzzer apa? Buzzer, ya kan. Jadi kita harus tegar, yang jelas kita buktikan kepada rakyat," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: