Bahlil Bisa Jadi Tokoh Favorit Masyarakat? Begini Kata Pakar

Oleh: Kiswondari
Minggu, 22 Februari 2026 | 10:30 WIB
Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional Bahlil Lahadalia. (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional Bahlil Lahadalia. (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Siapa yang tak kenal Bahlil Lahadalia? Dia adalah tokoh politik yang namanya mulai bersinar di era kepemimpinan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Selama dua periode kepemimpinan Jokowi, Bahlil menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang kemudian dilebur menjadi Menteri Investasi. 

Tak berhenti di situ, Bahlil dipilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 2024-2029. Ia juga ditunjuk oleh Presiden RI Prabowo Subianto untuk menduduki jabatan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

Namun, di tengah karier politiknya yang melejit, Bahlil bukanlah tokoh dengan citra positif di masyarakat, justru sebaliknya, ia sering menjadi 'objek' konten kritikan dan lawakan di media sosial (medsos) karena berbagai pernyataan dan kebijakannya yang kontroversial. 

Di tengah berbagai kontroversi itu, Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio justru melihat bahwa Bahlil bisa menjadi tokoh favorit masyarakat . Dengan latar belakang perjuangan hidupnya yang luar biasa, itu bisa menjadi modal.

"Dari ceritanya, perjuangan hidup beliau memang luar biasa dan bisa mencapai posisi politik seperti saat ini itu menjadi makin luar biasa, bisa menjadi Inspirasi bagi kita yang punya latar belakang hidup susah ini," kata Hendri merujuk video viral Bahlil di TikTok saat dikonfirmasi, Minggu (22/2/2026). 

Namun, kata pria yang akrab disapa Hensat ini, Bahlil bisa menjadi tokoh idola masyarakat apabila ia dapat memyampaikan pandangannya secara santun dan tenang, serta tidak menggebu-gebu.

"Kalau Bahlil cara komunikasinya menjadi lebih santun, kalem, tenang, maka bukan tidak mungkin ia akan mengambil hati masyarakat," ujarnya.

Namun sayangnya, kata dia, gaya bicara Bahlil cenderung elitis, berbeda saat dia menceritakan tentang kisah perjuangan hidupnya. Sehingga, publik pun cenderung merespons Bahlil secara negatif.

"Saat ini, justru saya melihat Bahlil cara komunikasinya terlalu mewakili kaum elite, tidak seperti pada saat dia bercerita dan perjuangannya ketika dia memulai dari sekadar masyarakat biasa. Itu yang membuat publik cenderung memberikan sentimen negatif terhadap dirinya," terang Direktur Eksekutif lembaga riset KedaiKOPI ini.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: