Apa Itu Bursa Efek? Begini Penjelasannya

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Jumat, 06 Maret 2026 | 13:32 WIB
Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI). (BeritaNasional/IDX)
Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI). (BeritaNasional/IDX)

BeritaNasional.com -  Mungkin masyarakat kita masih awam dengan istilah bursa efek. Berikut ini merupakan penjelasan singkat bagi kamu yang ingin mengetahui lebih dalam tentang bursa efek. Yuk simak.

Apa Itu Bursa Efek?

Secara sederhana, bursa efek adalah lembaga yang menyediakan sistem, sarana, dan aturan sehingga penjual (emiten) dan pembeli (investor) dapat melakukan transaksi efek secara aman dan teratur.

Instrumen yang diperdagangkan tidak hanya saham, tetapi juga obligasi, sukuk, derivatif, hingga instrumen pasar modal lainnya.

Di Indonesia, penyelenggaraan bursa dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX), yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan transaksi berlangsung transparan, adil, dan efisien.

Fungsi Bursa Efek

Bursa efek memiliki berbagai fungsi strategis yang mendukung aktivitas pasar modal dan pertumbuhan ekonomi. Berikut fungsi yang dijalankan bursa secara menyeluruh:

Menjadi Sarana Pendanaan bagi Perusahaan: Melalui IPO, perusahaan dapat menghimpun modal dari publik untuk ekspansi, inovasi, atau memperbaiki struktur keuangan.

Menjadi Sarana Investasi bagi Masyarakat: Investor dapat memilih beragam instrumen yang sesuai profil risiko untuk mendapatkan imbal hasil berupa dividen, bunga, atau capital gain.

Menyediakan Likuiditas Pasar: Bursa memastikan transaksi berlangsung setiap hari, sehingga investor bisa membeli atau menjual efek kapan pun sesuai harga pasar.

Mewujudkan Penentuan Harga yang Transparan: Harga terbentuk dari supply dan demand, sehingga mencerminkan nilai wajar perusahaan.

Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional: Dana yang mengalir ke perusahaan melalui pasar modal mendorong peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Menyediakan Sistem Perdagangan yang Aman dan Teratur: BEI memfasilitasi infrastruktur perdagangan, menetapkan aturan, dan memastikan setiap aktivitas sesuai regulasi.

 

Jenis Pasar Saham di Bursa Efek

Sebelum memahami jenis bursa efek, kamu perlu mengetahui bahwa transaksi saham di BEI dilakukan melalui beberapa jenis pasar yang berbeda. Setiap pasar memiliki mekanisme, penyelesaian, dan aturan khusus. Berikut in penjelasannya:

1. Pasar Reguler

Secara umum, transaksi saham yang paling banyak dilakukan berada di pasar reguler. Pada pasar ini, perdagangan berlangsung melalui sistem lelang berkesinambungan menggunakan JATS.

Setiap order beli dan jual dipertemukan secara otomatis berdasarkan harga dan waktu masuknya order. Penyelesaian transaksi dilakukan pada T+2, yaitu dua hari kerja setelah perdagangan terjadi.

Pada pasar ini, investor wajib mematuhi ketentuan jumlah minimal transaksi, yakni satu lot atau 100 lembar saham.

2. Pasar Negosiasi

Selain pasar reguler, terdapat pasar negosiasi, yaitu pasar di mana harga dan jumlah saham ditentukan berdasarkan kesepakatan langsung antar pihak.

Proses tawar-menawar berlangsung secara individual antara anggota bursa, antara investor dengan anggota bursa, atau antar investor yang difasilitasi anggota bursa.

Setelah terjadi kesepakatan, transaksi tersebut kemudian dicatat melalui sistem perdagangan bursa untuk diselesaikan sesuai aturan.

3. Pasar Tunai

Pasar ini memiliki kesamaan dengan pasar reguler dari sisi mekanisme lelang, tetapi berbeda dalam penyelesaiannya. Jika pada pasar reguler penyelesaian dilakukan T+2, maka di pasar tunai penyelesaian dilakukan pada hari yang sama (T+0).

Pasar tunai biasanya digunakan untuk memenuhi kewajiban tertentu, contohnya ketika investor perlu menyelesaikan transaksi yang belum terpenuhi pada pasar reguler.

Jenis Instrumen Bursa Efek

Bursa efek menyediakan banyak pilihan instrumen investasi, bukan hanya saham. Masing-masing punya karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda sehingga bisa kamu sesuaikan dengan tujuan finansialmu. Berikut ini jenisnya:

1. Saham

Ketika membeli saham, kamu sebenarnya membeli sebagian kepemilikan perusahaan. Keuntungannya bisa datang dari dua sumber, yaitu dividen (pembagian laba) dan capital gain (selisih harga jual dan beli saham).

Namun, risikonya juga lebih tinggi karena harga saham dapat bergerak naik turun dengan cepat.

2. Obligasi

Berbeda dengan saham, obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah. Sebagai pemegang obligasi, kamu berhak menerima kupon atau bunga secara berkala hingga masa jatuh temponya tiba.

Obligasi cocok untuk investor yang menginginkan pendapatan tetap dengan risiko lebih rendah dibanding saham.

3. Reksadana

Jika kamu ingin berinvestasi tanpa perlu repot mengelola portofolio, reksadana bisa jadi pilihan.

Dana kamu dikelola oleh manajer investasi, lalu dialokasikan ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, atau pasar uang. Reksadana membuat investasi jadi lebih praktis, bahkan untuk pemula.
 

4. Exchange Traded Fund (ETF)

ETF sekilas mirip reksadana karena sama-sama berisi kumpulan aset. Bedanya, ETF diperdagangkan layaknya saham di lantai bursa.

Artinya, kamu bisa membeli atau menjual ETF kapan saja selama pasar buka. Instrumen ini cocok untuk kamu yang ingin diversifikasi tetapi tetap fleksibel.

5. Derivatif (Rights & Warrants)

Instrumen derivatif memiliki nilai yang bergantung pada aset lain, misalnya saham. Contoh derivatif yang umum adalah right dan warrant, yang biasanya digunakan untuk strategi hedging atau spekulasi.

Dengan sifatnya yang lebih kompleks, derivatif umumnya digunakan oleh investor yang sudah memahami cara kerjanya.

6. Efek Beragun Aset (EBA)

EBA adalah instrumen yang portofolionya berisi kumpulan aset keuangan, seperti tagihan kartu kredit, tagihan KPR, atau surat berharga komersial.

Investor EBA menerima aliran pendapatan dari pembayaran atas aset-aset yang menjadi dasar instrumen tersebut. EBA cocok bagi investor yang ingin pendapatan rutin dengan risiko yang terukur.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: