Basa-basi Lebaran yang Membuat Tidak Nyaman? Ini Penjelasan dalam Al Quran

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Rabu, 25 Maret 2026 | 11:28 WIB
Suasana terminal Kampung Rambutan pada saat arus balik lebaran 2026. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Suasana terminal Kampung Rambutan pada saat arus balik lebaran 2026. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com -  Idul Fitri telah tiba. Pada momen tersebut biasanya keluarga besar akan berkumpul di rumah orang tua. Seluruh kerabat berdatangan dengan tujuan menyambung silaturahmi.  

Menyambung tali silaturahmi sangat dianjurkan dalam Islam. Terdapat banyak dalil di dalam Al-Qur’an yang berisi anjuran menyambung silaturahmi. Salah satunya dalam surat Ar-Ra’d ayat 21, Allah berfirman:

  وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلۡحِسَابِ

  Artinya: “Orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan (seperti silaturahmi), takut kepada Tuhannya, dan takut (pula) pada hisab yang buruk." (QS Ar-Ra’d: 21).  Ayat ini merupakan satu di antara sekian anjuran untuk menyambung tali silaturahmi, terutama dengan sanak keluarga dan kerabat.  

Namun, dalam praktiknya banyak dari umat Islam  justru tidak menjaga perasaan kerabatnya pada saat momen lebaran tiba. Baik itu dengan melontarkan pertanyaan yang bersifat personal dan maupun pertanyaan yang tidak berfaidah yang keduanya dapat menyinggung perasaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut baik itu meliputi kehidupan sosial, masalah pribadi maupun dengan melontarkan candaan yang berlebihan. 

Misalnya pertanyaan seperti: "Kapan nikah?", untuk yang belum nikah; "Kapan punya anak? ", untuk yang belum punya anak atau pertanyaan personal lainnya yang dapat menyinggung hati itu sangat di larang dalam agama.   Meskipun mungkin bagi generasi lama pertanyaan tersebut berniat untuk memotivasi, namun perbedaan cara pandangan generasi bisa menjadi alasan bahwa lebih baik tidak menanyakan sesuatu yang berpotensi menyinggung orang lain secara personal.
 

 Adab Bertanya kepada Kerabat saat Silaturahmi Lebaran Menjaga lisan merupakan bagian dari perintah agama yang wajib dilakukan. Termasuk pada saat merayakan momen lebaran bersama kerabat dan keluarga. Melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menyinggung sangat dilarang dalam Islam karena dapat menyakiti perasaan orang lain. Islam sendiri menganjurkan lebih baik diam daripada berucap tapi menyakiti orang lain.

    Nabi Muhammad saw bersabda:   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ  

Artinya: “Dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berbicara baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).  

Pada hadits di atas, Rasulullah saw dengan tegas memerintahkan kepada umat Islam untuk menjaga diri dari menyakiti orang lain termasuk perasaan mereka. Bahkan dalam hadits di atas Nabi Muhammad saw lebih menganjurkan diam daripada berucap dengan kata-kata yang tidak baik.   Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bahkan menjadikan menjaga lisan bagian dari keselamatan.

Rasulullah bersabda:

  وقال عقبة بن عامر: قلت: يا رسول الله, ما النجاة؟ قال: أمسك عليك لسانك وليسعك بيتك, وابك على خطيئتك  

Artinya: “Uqbah bin Amir berkata: aku berkata: Ya Rasulallah, apa itu keselamatan?. Nabi Muhammad saw berkata: jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu lapang dan menangislah karena dosamu”. (HR At-Tirmidzi).   Hadits menjelaskan pentingnya menjaga lisan untuk selalu berkata baik atau tetap diam jika tidak dapat berucap baik, bahkan Rasulullah menjadikannya bagian dari keselamatan.  (NU Online/Ustadz Alwi Jamalulel Ubab0
 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: