1 Warga Tewas usai Gempa M 7,6 Guncang Sulut-Malut

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 02 April 2026 | 11:55 WIB
Bangunan mengalami kerusakan akibat gempa di Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, Kamis (2/4). (Foto/BPBD Kota Ternate)
Bangunan mengalami kerusakan akibat gempa di Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, Kamis (2/4). (Foto/BPBD Kota Ternate)

BeritaNasional.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu orang warga meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, Kamis (2/4/2026) pagi.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan korban ditemukan di antara reruntuhan Gedung Koni, Lapangan Olah Raga Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara.

“Seorang warga ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di antara reruntuhan Gedung Koni, lapangan olah raga Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara, setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 terjadi pada Kamis (2/4) pukul 05.48 WIB. Korban segera dievakuasi oleh tim gabungan bersama masyarakat sekitar,” ujar Abdul Muhari dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).

Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat adanya kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah terdampak. Berdasarkan hasil kaji cepat di lapangan hingga pukul 08.00 WIB, kerusakan meliputi satu unit tempat ibadah di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, serta dua unit rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan.

“Berdasarkan laporan perkembangan kaji cepat di lapangan hingga pukul 08.00 WIB, kerusakan infrastruktur juga teridentifikasi yang meliputi satu unit tempat ibadah di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, serta dua unit rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan,” katanya.

BNPB menyebut guncangan gempa dirasakan sangat kuat di Kota Bitung dan Kota Ternate dengan durasi sekitar 10 hingga 20 detik. Kondisi tersebut memicu kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

“Guncangan gempa bumi yang dirasakan sangat kuat di wilayah Kota Bitung dan Kota Ternate dengan durasi sekitar 10 hingga 20 detik, telah menimbulkan kepanikan masyarakat sehingga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas terkait berbagai daerah saat ini terus melakukan monitoring, asesmen, serta koordinasi penanganan darurat,” tuturnya.

Tsunami di Bawah 1 Meter

Gempa tersebut juga memicu tsunami dengan ketinggian bervariasi di sejumlah wilayah. BNPB mencatat tinggi gelombang tsunami di Halmahera Barat mencapai 0,3 meter, Bitung 0,2 meter, Sidangoli 0,35 meter, Minahasa Utara 0,75 meter, dan Belang 0,68 meter.

“Fenomena gempa bumi ini juga telah memicu terjadinya tsunami dengan level ketinggian bervariasi di beberapa wilayah. Adapun level ketinggian tsunami di Halmahera Barat tercatat mencapai 0,3 meter, Bitung 0,2 meter, Sidangoli 0,35 meter, Minahasa Utara 0,75 meter, dan Belang 0,68 meter,” ujar Abdul.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat bahwa waktu tiba gelombang tsunami dapat berbeda-beda dan gelombang pertama tidak selalu menjadi yang terbesar. Karena itu, warga di wilayah pesisir diminta tetap waspada dan menjauhi area berisiko.

“Hasil monitoring lanjutan BMKG, tercatat 11 aktivitas gempa susulan (aftershock) hingga pukul 06.50 WIB, dengan magnitudo terbesar mencapai 5.5. Dua gempa susulan signifikan terjadi pada pukul 06.07 WIB (M 5.5) dan pukul 06.12 WIB (M 5.2), yang tidak berpotensi tsunami,” lanjutnya.

BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, agar tetap tenang namun waspada. Warga diminta segera menjauhi pantai dan muara sungai serta melakukan evakuasi ke tempat lebih tinggi apabila merasakan gempa kuat atau menerima peringatan resmi.

“BNPB mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, untuk tetap tenang namun waspada, segera menjauhi pantai dan muara sungai, serta melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi apabila merasakan gempa kuat atau menerima peringatan resmi. Masyarakat diminta membantu kelompok rentan, menghindari bangunan yang mengalami kerusakan, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah,” katanya.

Saat ini, pendataan dampak gempa masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait. BNPB memastikan informasi terbaru mengenai dampak bencana akan diperbarui secara berkala.

“Pendataan masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait dan informasi mengenai dampak gempa bumi ini akan diperbarui secara berkala,” pungkas Abdul Muhari.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: