Wamenkeu Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik, Fiskal Indonesia Tetap Aman

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 09 April 2026 | 05:00 WIB
Antrean pengendara kendaraan roda dua untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Condet, Jakarta, Jumat (27/3/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Antrean pengendara kendaraan roda dua untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Condet, Jakarta, Jumat (27/3/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh tensi geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah, kata dia, memilih untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat sekaligus menahan tekanan inflasi.

“Resepnya adalah pertama, kita harus jaga daya beli masyarakat. Jadi BBM tidak kita naikkan. Yang kedua, dari sisi eksternal sebenarnya ada natural hedge,” ujar Juda dikutip dari laman Kemenkeu, Kamis (9/4/2026).

Juda menjelaskan, hingga kuartal I 2026, perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan berada di kisaran 5,4 hingga 6 persen, ditopang oleh konsumsi domestik yang tetap terjaga, penguatan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara dan CPO, serta peningkatan investasi.

Di sisi fiskal, penerimaan pajak dan realisasi belanja negara juga disebut menunjukkan tren positif. Pemerintah pun memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dijaga di bawah ambang batas aman 3 persen, meski beban subsidi meningkat.

“Karena belanja subsidinya naik, ini kita kelola supaya belanja yang lain lebih efisien tapi tetap efektif untuk mendorong program-program prioritas. Ada ruang-ruang untuk efisiensi. Inilah yang kita kelola sehingga overall APBN kita masih bisa kita jaga di bawah 3 persen budget defisitnya,” ungkap dia.

Ia menegaskan, setiap langkah fiskal yang diambil pemerintah telah melalui perhitungan yang matang. Karena itu, menurutnya, respons yang adaptif, koordinasi yang kuat, serta komunikasi yang terbuka menjadi kunci penting dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

“Apa yang kami sampaikan ini di fiskal ini adalah based on perhitungan-perhitungan detail. Jadi ini memang sebuah masukan dan tentu saja komunikasi terus harus kita lakukan dari hari ke hari,” pungkasnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: