Dunia Bereaksi atas Dibukanya Selat Hormuz di Tengah Ketegangan AS-Iran
BeritaNasional.com - Pemerintah Iran dan Amerika Serikat sama-sama memastikan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali terbuka bagi kapal komersial di tengah meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa selat strategis tersebut kini “sepenuhnya dapat dilalui” menyusul diberlakukannya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Pernyataan ini menandai adanya upaya meredakan konflik yang sebelumnya sempat mengganggu arus perdagangan global.
Senada dengan itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa Selat Hormuz kembali siap digunakan untuk aktivitas pelayaran internasional. Ia bahkan menyebut Iran telah berkomitmen untuk tidak lagi menutup jalur tersebut. Namun demikian, Trump tetap menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran masih akan diberlakukan hingga tercapai kesepakatan menyeluruh, termasuk terkait isu nuklir.
Di sisi lain, upaya internasional untuk menjamin keamanan pelayaran terus digalakkan. Pertemuan multilateral yang berlangsung di Paris melibatkan puluhan negara yang sepakat untuk mendukung pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyambut positif perkembangan tersebut, meski tetap menekankan perlunya implementasi yang berkelanjutan. Ia mengungkapkan bahwa Inggris bersama Prancis berencana memimpin misi internasional yang bersifat defensif untuk menjaga keamanan jalur pelayaran.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga menegaskan pentingnya pembukaan penuh dan tanpa syarat Selat Hormuz, serta menolak segala bentuk pembatasan yang berpotensi menghambat kebebasan navigasi.
Sementara itu, Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan kesiapan negaranya untuk berkontribusi melalui dukungan intelijen dan kemampuan pembersihan ranjau, dengan catatan adanya dasar hukum internasional yang jelas.
Dukungan serupa disampaikan Presiden Finlandia, Alexander Stubb, yang menilai pembukaan selat sebagai langkah positif, meskipun solusi jangka panjang tetap harus mengedepankan jalur diplomasi.
Dari sisi organisasi global, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyebut langkah tersebut sebagai perkembangan yang konstruktif. Sementara Organisasi Maritim Internasional masih melakukan verifikasi terhadap implementasi kebebasan navigasi di lapangan.
Meski jalur telah dinyatakan terbuka, pelaku industri pelayaran masih berhati-hati. Sejumlah perusahaan seperti Hapag-Lloyd dan Maersk mengaku masih menilai risiko keamanan sebelum kembali mengoperasikan kapal melalui Selat Hormuz.
Sebelumnya, gangguan terhadap jalur tersebut yang menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi minyak mentah dunia—sempat memicu kenaikan harga energi global. Namun, dengan dibukanya kembali akses pelayaran, pasar mulai menunjukkan respons positif dengan penurunan harga minyak.
Sumber: Al-jazeera
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







