Perundingan AS Iran Gagal, Rupiah Melemah
BeritaNasional.com - Gagalnya perundingan Amerika Serikat (AS) dengan Iran disebut berdampak besar pada melemahnya nilai tukar rupiah siang hari ini yang menyentuh Rp17.304 perdolar AS atau 123 poin/0,72% pada pukul 13:32 wib dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.
Pakar ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan yang cukup signifikan ini disebabkan gagalnya perundingan antara kedua negara yang sedang berseteru tersebut.
“Salah satu penyebabnya, pertama adalah masalah eksternal, dimana pertemuan di minggu ini antara AS dan Iran yang difasilitasi Pakistan gagal. Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut karena AS sudah menyalahi aturan dalam gencatan senjata dengan melakukan penangkapan terhadap kapal tanker Iran yang melewati Selat Hormuz,” ucapnya dilansir Antara, Kamis (23/4/2026).
Iran disebut siap melakukan perang berkepanjangan dengan AS karena tak lagi percaya dengan negara yang dipimpin Donald Trump tersebut.
AS kemudian memutuskan untuk melakukan gencatan sepihak, seiring mendorong kesepakatan yang diinginkan Amerika agar Selat Hormuz tak boleh dikenakan tarif oleh Iran, dan pengayaan uranium agar dihentikan dan diambilalih untuk disimpan di Amerika.
Kedua syarat yang diminta AS yang membuat Iran tak bisa menerima karena dianggap telah melanggar hak kedaulatan Iran untuk mengelola Selat Hormuz tanpa adanya intervensi.
Melihat dari segi internal, kenaikan harga minyak Brent yang saat ini menyentuh 103 dolar AS per barel dan harga West Texas Intermediate (WTI) sebesar 98 dolar AS per barel, membuat defisit anggaran Indonesia kemungkinan besar akan melebar.
Selain itu, masalah lainnya ialah kapal tanker Pertamina yang belum bisa keluar dari Selat Hormuz akibat gejolak konflik di kawasan Asia Barat. (Antara)

GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
HUKUM | 19 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu







